Pilar-Pilar Pendidikan Iman

PILAR PERTAMA :

KEIMANAN KEPADA ALLAH

Fitrah, akal, dan syariat semuanya menunjukkan akan keberadaan Allah. Semua makhluk telah diberikan fitrah untuk beriman kepada penciptanya. Adapun ditinjau dari sisi akal, segala sesuatu yang diciptakan harus ada yang menciptakannya. Ditinjau dari sisi syariat, semua agama langit menetapkan keberadaan sang pencipta. Keimanan kepada Allah itu mencakup beberapa hal:

  1. Meyakini keberadaan Allah.
  2. Beriman kepada rububiyah Allah dengan meyakini bahwa Dia adalah tuhan, sang pencipta dan pemberi rezeki serta mengatur semesta alam.
  3. Beriman kepada uluhiyah Allah dengan mengesakan Allah dan meyakini tidak ada yang setara dengan Dia.
  4. Beriman kepada nama-nama Allah dan sifat-sifatNya yang merealisasikan kesempurnaan dan keindahan-Nya.
    Kita hendaknya mengajarkan kepada anak tentang empat hal ini sehingga anak tumbuh dan mengenal tuhannya, memuliakan, serta mencintai-Nya. Pilar ini adalah asas bagi pilar-pilar yang lain.

Bagaimana Mengajarkan Rasa Cinta Kepada Allah ?

  1. Jalan masuk satu-satunya pada anak untuk menanamkan perkara keimanan adalah melalui panca indranya. Maksudnya adalah sebagai orang tua, kita hendaknya bertumpu pada panca indra sang anak dalam menguatkan keimanannya kepada Allah. Kita bisa manfaatkan fenomena alam di sekitar kita. Contohnya matahari, hujan, dan angin. Dari situ kita ajarkan kepada anak bahwa ada sang pencipta yang mengatur semesta alam ini. Kita juga dapat mendorongnya untuk bertanya dan meminta penjelasan. Kita harus berusaha memperlihatkan nuansa keimanan pada anak. Hendaknya anak melihat bukti-bukti keberadaan Allah pada segala sesuatu, kemudian anak menganalisa sendiri. Sebagai orang tua, hendaknya kita berusaha menjelaskan tentang kekuasaan dan penciptaan Allah yang begitu luar biasa. Termasuk juga dengan arahan ilahi untuk memperhatikan prinsip penciptaan manusia. Allah berfirman:
    “Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan.” (QS. At-Thariq : 5)
    Allah juga berfirman :
    “Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan.” (QS. Adz-Dzariyat: 21)
    Termasuk di antaranya arahan ilahi untuk memperhatikan makanan, bagaimana Allah mengadakannya dan menjelaskan prosesnya. Allah berfirman :
    “Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya” (QS. ‘Abasa : 24)
  2. Hendaknya dijelaskan pula kekuasaan Allah melalui perenungan pada makhluk-makhluknya yang menunjkkan kekuasaannya. Allah berfirman :
    “Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan. Dan langit, bagaimana ia ditinggikan. Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan. Dan bumi bagaimana ia dihamparkan.” (QS. Al-Ghasyiyah : 17-20)
    Makna-makna itu bisa dijelaskan kepada anak melalui kehebatan ciptaan dan keagungan sang pencipta pada usia anak yang berbeda-beda melalui media yang berbeda-beda pula. Juga bisa melalui media informasi dan teknologi modern. Beranjak dari fitrahnya, Anak akan menyukai yang menciptakan segala sesuatu dan mengaturnya.
  3. Mengajari anak Asmaul Husna dan sifat-sifat Allah yang menunjukkan kesempurnaan dan keindahan-Nya. Allah adalah Ar-Rahman, Ar-Rahim yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. Dialah Al-‘Afuw (maha pemaaf) yang memaafkan kesalahan. Dialah Al-Ghafur (maha pengampun) yang menggabungkan antara menerima maaf dan menutupi aib hamba-Nya. Dialah Al-Karim yang memberi tanpa diminta dan tanpa sebab apapun. Dialah Al-Hadi (Maha pemberi petunjuk) yang menunjukkan hamba-Nya kepada aneka ragam manfaat untuknya. Dialah Al-Wadud yang dicintai dan mencintai. Pengetahuan tentang hal ini sudah pasti akan membantu menumbuhkan rasa cinta kepada Allah.
  4. Hindari mengatakan, “Kalau kamu tidak dengar perkataan bapak/ ibu dan tidak taat maka Allah akan menghukum kamu.” Terdapat perbedaan antara “Allah menghukum siapa yang mengerjakan maksiat” dengan menghubung-hubungkan hukuman Allah dengan “tidak menurut kepada saya” dan mengancam anak dengan itu. Cara tersebut bisa menjadikan anak tidak mau merenungi kekuasaan Allah dengan lebih dalam. Tidak seharusnya mendidik anak dengan cara mengancamnya dengan adzab Allah. Seharusnya anak diajarkan tentang cinta kepada Allah dan takzim serta penghormatan kepada-Nya. Hendaknya kita tidak menisbatkan kepada Allah hal-hal yang bisa berpengaruh negatif bagi pandangan anak mengenai Allah.
  5. Ketika anak melihat kedua orang tua mengerjakan salat dan ibadah lainnya atau ia nampak dipandangannya perkara yang haram, maka ia akan bertanya tentang sebabnya. Hendaknya jawaban yang disebutkan mengandung rasa cinta dan taat kepada Allah. Dengannya orang tua mendidik anak dengan menunjukkan suri teladan yang baik di atas rasa cinta kepada Allah karena anak senantiasa meniru kedua orang tuanya. Termasuk hal yang dapat menumbuhkan rasa cinta kepada Allah dalam hati anak ialah menceritakan kepada mreka tentang surga dan apa yang Allah sediakan bagi hamba-hambaNya yang bertakwa berupa kenikmatan yang abadi.
  6. Apabila anak sudah mencapai usia dimana ia sudah mengerti tentang kewajiban-kewajiban agama, hendaknya ia diajari tentang wajibnya rasa cinta ini. Kewajiban itu karena Allah-lah yang telah menciptkan kita, memberi rezeki, memuliakan kita di atas makhluk lainnya, menganugrahi kita dengan Islam. Hendaknya kita ajarkan kepada anak bahwa segala nikmat yang ada disekitarnya berasal dari Allah. Hendaknya kita ajarkan bagaimana cara mensyukuri nikmat itu dan memuji Allah karenanya dan bagaimana cara meminta tambahan nikmat. Mengamati nikmat-nikmat tersebut akan mendorong untuk semakin mencintai Allah.
  7. Mengajarkan kepada anak sarana yang dapat membantu menjadikannya dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, baik berupa ucapan, perbuatan dan sikap.
Mengapa Kita Mengajarkan Cinta Kepada Allah?

  1. Karena Allah yang menciptakan kita dari yang sebelumnya kita tidak ada. Kemudian Allah menyempurnakan penciptaan kita serta memuliakan kita di atas makhluk-makhluk yang lain. Allah juga memeberi anugrah kepada kita dengan nikmat Islam. Kemudian Allah memberi kita rezeki dengan banyak sekali karunia-Nya walaupun kita tidak berhak mendapatkannya. Lalu Allah-lah yang akan mengembalikan kita ke surga sebagai balasan dari perbuatan yang sejatinya juga adalah karunia-Nya. Dialah pemilik karunia dari awal sampai akhir.
  2. Karena rasa cinta akan melahirkan rasa hormat dan takzim kepada Allah di saat bersendirian atau di keramaian. Betapa butuhnya kita untuk menanmkan rasa hormat dan takzim ini pada diri anak, dari hanya sekedar menanamkan rasa takut pada anak dari adzab Allah dan neraka Jahannam. Ini akan menjadikan ibadah anak menjadi sebuah kenikmatan ruh yang kelak akan membersamai kehidupan mereka dan menjaga mereka agar tidak tergelincir.
  3. Karena Allah adalah yang maha hidup, yang terus-menerus (mengurus makhluk-Nya), yang maha kekal dan tidak akan mati. Zat yang tidak mengantuk dan tidak tidur. Allah bersama dengan anak dimanapun mereka berada. Allah yang akan menjaga mereka dan memperhatikan mereka lebih dari kedua orang tua. Jadi, keterikantan anak kepada Allah dan rasa cinta mereka kepada Allah adalah keharusan. Agar mereka mengetahui bahwa mereka mememiliki sandaran yang begitu kuat, yaitu Allah subhanahu waTa’ala.
  4. Karena jika mereka mencintai Allah, mereka akan mencintai Alquran. Mereka akan semangat mengerjakan salat. Ketika mereka mengetahui bahwa Allah adalah zat yang maha indah serta mencintai keindahan, maka mereka akan melakukan semua yang indah. Ketika mereka tahu bahwa Allah mencintai orang yang gemar bertaubat, bersuci, berbuat baik, bersedekah, bersabar, bertawakkal, dan berkerja dengan baik maka mereka akan berusaha untuk memiliki sifat-sifat tersebut dengan tujuan mencari ridha dan kecintaan Allah. Juga untuk mendapatkan keberuntungan menjadi wali Allah dan dibela oleh-Nya. Ketika mereka tahu bahwa Allah tidak suka pengkhianat, orang kafir, orang sombong, orang dzhalim, dan perusak maka mereka akan menjauhi sifat-sifat tersebut sebisa mereka sebagi perwujudan cinta kepada Allah dan harapan terhadap ridha-Nya.
  5. Karena cinta kepada Allah bermakna merasakan keberadaan-Nya bersama dengan kita. Hal ini menghasilkan munculnya perasaan tenang, tentram dan keyakinan pada anak. Perasaan khawatir, sedih pun menghilang. Olehnya kesehatan jiwa dan tubuh anak akan selamat dari penyakit. Bahkan ia akan selamat dari maksiat dan inilah yang lebih penting.

PILAR KEDUA :

IMAN KEPADA MALAIKAT

Iman kepada malaikat meliputi pembenaran akan keberadaan malaikat, beriman terhadap nama-nama sebagian malaikat yang diajarkan kepada kita dan berita-berita tentang mereka serta mencintai mereka. Termasuk dari makna pendidikan yang terpenting yang seyogyanya harus ditanamkan dalam jiwa anak terkait malaikat adalah sebagai berikut:

  1. Mengajarkan kepada anak bahwa malakat adalah makhluk yang diciptakan dari cahaya. Dari ‘Aisyah radhiyallahu‘anha ia berkata, Rasulullah bersabda, “Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api yang menyala-nyala dan Adam diciptakan dari sesuatu yang telah disebutkan (ciri-cirinya) untuk kalian”.(HR. Muslim no. 2997). Hendaknya dicukupkan dengan penjelasan sifat malaikat secara umum dantanpa menjelaskan secara detail terkait sifat dan tabiat malaikat.
  2. Mengajarkan nama-nama malaikat yang diketahui. Seperti Jibril pemimpin para malaikat yang turun membawa Alquran, Mikail yang ditugasi mengatur air hujan, Israfil yang ditugas meniup sangkakala, para pemikul arasy, penulis catatan amal, penjaga manusia dan lain sebagainya.
  3. Menjelaskan kepada anak bahwa jumlah malaikat banyak sekali. Mereka adalah makhluk yang dijadikan selalu taat dan mengerjakan perintah. Perlu dijelaskan bahwa setiap malaikat ditugasi kepentingan tertentu yang senantiasa dikerjakannya dan dilaziminya.
  4. Malaikat itu maksum. Mereka beribadah kepada Allah secara terus menerus tanpa pernah letih, bosan dan jumawa. Mereka mencintai orang-orang yang beriman dan menolong mereka. Malaikat mendoakan dan menjaga mereka. Malaikat juga hadir pada majelis-majelis zikir dan mengikuti.
  5. Menjadikan anak mencintai malaikat dengan cara menjelaskan kepada mereka tentang tabiat malaikat yang baik, tabiat malaikat yang begitu antusias terhadap orang-orang yang beriman. Hal ini akan memunculkan ruh loyalitas dan rasa cinta kepada malaikat yang merupakan makhluk yang penuh berkah dan shalih. Malaikat adalah makhluk yang senantiasa bertasbih, beristigfar, mendoakan orang-orang beriman, memberi kabar gembira kepada mereka yang istikamah dengan keimaman dan amal shalih dengan surga, menolong mereka serta menguatkan mereka. Malaikat adalah pencatat amal-amal mereka yang ditugasi oleh Allah menjaga hamba-hambaNya. Allah berfirman:
    “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.” (QS. Ar-Ra’d : 11).
  6. Iman kepada malaikat mengharuskan penghormatan kepada mereka. Mereka adalah hamba-hamba yang dimuliakan, tidak pernah menyelisihi perintah Allah dan mengerjakan apa yang diperintahkan. Wajib mensucikan mereka dari sifat-sifat yang tidak pantas bagi mereka.
  7. Memotivasi agar menjaga kebersihan diri karena malaikat merasa terganggu sebagaimana manusia juga terganggu. Dari Jabir bin Abdillah dari Nabi beliau bersabda, “Barangsiapa yang makan sayur bawang putih ini, -dan pada kesempatan lain beliau bersabda, ‘Barangsiapa makan bawang merah dan putih serta bawang bakung- janganlah dia mendekati masjid kami, karena malaikat merasa tersakiti dari bau yang juga manusia merasa tersakiti (disebabkan baunya).”– HR. Muslim no. 2997.
  8. Terdapat banyak hikmah dari keberadaan malaikat dan keimanan kepada mereka. Di antaranya: agar manusia mengetahui betapa luasnya ilmu Allah, agungnya kekuasaan-Nya, dan indahnya hikmah-Nya. Juga agar seorang muslim merasakan keamanan karena mengetahui bahwa ada tentara yang menjaganya dan menolongnya dengan perintah Allah.
  9. Hubungan kita dengan malaikat (baik dari sisi penciptaan, keberadaan, dan pengawasan) membuktikan betapa bernilai dan pentingnya manusia. Hal itu juga menghilangkan anggapan remeh terhadap dirinya. Dengannya manusia bisa menghargai dirinya sendiri kemudian berusaha merealisiskan perannya yang mulia yang telah diwajibkan baginya.

PILAR KETIGA:

IMAN KEPADA KITAB-KITAB

Iman kepada kitab-kitab berisi hal-hal sebagai berikut:

  1. Iman terhadap keberadaan kitab-kitab yang diturunkan dari sisi Allah. Itu adalah bentuk keagungan rahmat Allah kepada hambahamba-Nya. Allah menurunkan bagi setiap kaum sebuah kitab. Mereka mendapatkan petunjuk dengannya berupa syariat dan hukum yang sesuai bagi kaum tersebut. Hendaknya dijelaskan kepada anak bahwa diturunkannya kitab adalah sebuah nikmat yang mulia karena kitab-kitab itu mengenalkan kita kepada Allah juga hari kiamat. Juga kepada keburukan dan kebaikan.
  2. Membenarkan apa yang kita ketahui dari nama-nama kitab yang diturunkan tersebut seperti suhuf Ibrahim, Taurat yang diturunkan kepada Musa ‘alaihissalam, Zabur yang ditunkan kepada Dawud ‘alaihissalam, Injil yang ditunkan kepada ‘Isa ‘alahissalam dan Alquran yang diturunkan kepada Muhammad.
  3. Kitab-kitab tersebut saling membenarkan satu sama lainnya dan tidak saling mendustakan. Tidak ada pertentangan antar kita-kitab itu. Allah berfirman: “… membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya)…” (QS, Al-Maidah : 48)
  4. Membenarkan segala yang shahih terkait kabar-kabar yang dibawa oleh kitab-kitab tersebut. Hendaknya orang tua mengajarkan bahwa kitab-kitab samawi terdahulu sudah terpapar oleh perubahan dan penyelewengan makna karena kitab-kitab tersebut hanya diperuntukkan bagi zaman tertentu saja dan Allah tidak menjamin penjagaannya dari gubahan manusia sebagaimana Allah menjamin Alquran.
  5. Meyakini dan mengimani bahwa Alquran menghapus segala syariat yang dibawa oleh kitab-kitab terdahulu. Beramal dengan hukum-hukum Alquran adalah fardhu ‘ain (wajib atas setiap muslim) olehnya wajib mengerjakan perintah Alquran, menghindari apa yang dilarang oleh Alquran, menghalalkan apa yang dihalalkannya, mengharamkan apa yang diharamkannya, dan beramal dengan apa yang muhkamat darinya, menerima mutasyabihat-nya, serta berhenti pada batasan-batasan ajarannya.

Di antara hal penting yang termasuk dari keimanan kepada kitab-kitab ialah melatih anak menghapal Alquran sejak kecil. Mengahapal Alquran dianggap sebagai kegiatan penting yang dapat menumbuhkan kecerdasan anak. Apabila dimanfaatkan dengan baik serta didukung kemampuan pendidik menghidupkan suasana kandungan ayat dalam jiwa anak maka Alquran dapat memotivasi anak untuk berpikir dan merenungi penciptaan langit dan bumi, manusia, dan sekitarnya. Hal itu guna menambah keimanan dan agar ilmu berbaur dengan amal. Menghapal Alquran beserta memahami maknanya akan mengantarkan manusia pada tingkat kecerdasan yang tinggi. Menghapal Alquran juga melatih lisan anak untuk menyebutkan secara fasih dan jelas melalui bacaan Alquran dan tajwidnya. Menghapal Alquran juga melatih perasaan rohani seperti takut kepada Allah, khusuyk, cinta, dan melembutkan perasaan dan hati. Juga dapat membiasakan anak untuk beramal dengan ajaran serta adab-adab Alquran pada setiap sisi kesehariannya. Alquran mendidik anak untuk hidup di atas keistikamahan dan akhlak yang mulia. Di antara menfaat menghapal Alquran adalah perolehan pahala yang besar dan karunia agung dari Allah subhanahu wa taala ketika sang anak berkumpul di halakah Alquran.

Bagaimana cara memotivasi anak untuk menghapal?

  1. Sebagai orang tua hendaknya kita menjelaskan keutaman Alquran, keutamaan menghapalnya, membacanya dan mengajarkannya serta beramal dengannya. Misalnya sabda Nabi : “Bacalah Alquran, karena ia akan datang memberi syafa’at kepada para pembacanya pada hari kiamat nanti .” (HR. Muslim no. 804). Juga sabdanya : “Kelak akan dikatakan kepada ahli Alquran; Bacalah dan naiklah, kemudian bacalah dengan tartil sebagaimana kamu membacanya ketika di dunia, karena sesungguhnya tempatmu ada pada akhir ayat yang kamu baca.”(HR. At-Tirmidzi no. 2914 dihasankan oleh Al-Albani). Juga sabda beliau : “Perumpamaan seorang Mukmin yang suka membaca Alquran seperti buah Utrujah, baunya harum dan rasanya enak. Perumpamaan seorang Mukmin yang tidak suka membaca Alquran seperti buah kurma, tidak berbau namun rasanya manis. Perumpamaan seorang Munafik yang suka membaca Alquran seperti buah Raihanah, baunya harum tapi rasanya pahit. Dan Perumpamaan seorang munafik yang tidak suka membaca Alquran seperti buah hanzhalah, tidak berbau dan rasanya pahit.”(HR. Al-Bukhari no. 5427). Serta sabda beliau : “Orang yang paling baik di antara kalian adalah seorang yang belajar Alquran dan mengajarkannya.”(HR. Al-Bukhari no. 5027) Hendaknya orang tua menyebutkan contoh perhatian para salaf terhadap Alquran, demikian itulah sarana penggerak semangat anak.
  2. Mendaftarkan anak pada sekolah Alquran atau halakah Alquran di masjid, bisa juga dengan mencarikan guru privat yang mengajari anak Alquran. Jika ada lebih dari satu anak atau murid, pendidik juga bisa menyediakan hadiah atau imbalan untuk menambah semangat anak dalam berlomba=lomba menghapal Alquran.
  3. Seharusnya menghapal itu dipermudah bagi anak pada permulaan prosesnya hingga anak mencintai proses menghapal tersebut. Hendaknya menghapal Alquran dimulai dari menghapal juz ‘Amma karena juz ini unggul dengan ayat-ayatnya yang pendek dan biasanya diakhiri dengan huruf yang sama. Ini memudahkan untuk menguatkan anak. Selain itu, surat-surat dalam juz Amma berisi ajaran tentang rukun iman dan pembenaran akidah serta perbaikan akhlak. Bahkan berisi hal yang dapat menjaga keselamatan dan kesehatan anak karena Alquran adalah zikir dan rukiyah. Selain itu Alquran dapat memperbaiki pelafalan dan menambah kejelasan penyebutan huruf dari lisan anak.
  4. Hedaknya orang tua memperhatikan anak saat mereka membaca Alquran atau menghapalkannya, jika bisa hendaknya dijelaskan secara singkat mengenai makna-makna yang terkandung di dalamnya hingga terbuka hati dan pikiran sang anak oleh makna-makna ayat Alquran. Jangan pernah berpikir bahwa anak belum berhak mendapatkan penjelasan tersebut. Anak itu memiliki kemampuan yang luar biasa dalam merekam dan memahami informasi.
  5. Hendaknya orang tua mengajari anak bahwa Alquran adalah obat dan rahmat serta keberkahan. Allah berfirman :
    “Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.”(QS. Al-Isra : 82)
    Perlu disampaikan kepada anak bahwa siapa yang menghapal Alquran atau menghapal sebagian juz dari Alquran maka akan mudah baginya untuk melakukan rukiyah pada dirinya sendiri atau orang lain saat sakit.

Pilar Keempat:

iman kepada para Rasul

Pilar ini mencakup keimanan untuk membenarkan mereka dan membenarkan apa yang valid dari kabar-kabar mereka. Juga terhadap siapa saja yang yang kita ketahui namanya dari mereka dan bahwasanya Allah subhanahu wa taala memilih mereka di antara kaum mereka dan menjadikan mereka lebih unggul dari sisi akhlak dan akal. Hal itu agar para rasul tersebut bisa menyampaikan risalahnya kepada kaum mereka. Allah subhanahu wa taala berfirman: “Tidaklah kami mengutus dari seorang rasul kecuali dengan lisan kaumnya agar Ia menjelaskan kepada mereka” (Q.S. Ibrahim : 4)

Seandainya saja rasul itu adalah seorang malaikat tentu kaumnya tidak memahaminya. Hendaknya kita tidak membeda-bedakan antara rasul-rasul tersebut. Kita tidak beriman kepada sebagian saja dan ingkar kepada sebagian yang lain. Akan tetapi kita beriman kepada mereka semuanya. Semua rasul adalah orang-orang yang jujur dalam menyampaikan risalah mereka dan mereka pula adalah orang-orang yang baik dalam nasihat dan perhatian mereka kepada umatnya. Mereka adalah orangorang yang maksum dalam menyampaikan risalah Allah. Kita tidak wajib beramal melainkan dengan syariat rasul yang terakhir dan penutup yaitu Muhammad.
Berikut ini sebagian makna-makna yang hendaknya ditanamkan terkait dengan keimanan kepada rasul:

  1. Hendaknya dijelaskan bahwasanya Allah subhanahu wa taala yang mengutus pada setiap umat seorang rasul di antara mereka yang bertugas mengajak mereka kepada penyembahan Allah subhanahu wa taala semata. Selain itu mereka juga mengajak untuk mengkufuri apa yang disembah selain Allah. Para rasul tersebut semuanya adalah orang-orang yang jujur dan dibenarkan serta bertakwa dan amanah.

  2. Hendaknya dijelaskan bahwasanya dakwah mereka sama dari rasul yang pertama sampai dengan yang terakhir semuanya berdasarkan pada ibadah dan landasannya. Yaitu mengesakan Allah subhanahu wa taala dengan berbagai macam ibadah baik dari sisi keyakinan, ucapan, dan amal. Juga dengan mengkufuri segala yang disembah selain Allah.
  3. Dijelaskan bahwasanya hikmah-hikmah Rabbani pada pengutusan rasul kepada makhluk-Nya. Di antara hikmah-hikmah tersebut ialah ibadah kepada Allah subhanahu wa taala semata dan mengesakan-Nya, memberi petunjuk kepada manusia dan membimbing mereka pada jalan yang lurus, mengajarkan manusia perkara-perkara agama dan dunia, mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, memimpin umat manusia dan menerapkan syariat Allah subhanahu wa taala pada mereka serta menjadikan manusia berpedoman pada rasul-rasul tersebut serta menjalani hidup di atas metode atau jalan hidup mereka.
  4. Hendaknya diajarkan betapa besar rahmat Allah dan perhatiannya kepada hamba-hambanya. Hal ini terlihat ketika Allah subhanahu wa taala mengutus para rasul agar manusia mendapat petunjuk menuju jalan Allah subhanahu wa taala. Juga ketika Allah mengingatkan agar mensyukuri Allah subhanahu wa taala atas nikmat terbesar itu. Juga hendaknya kita mencintai para rasul dan Nabi karena mereka telah menyampaikan risalah Allah subhanahu wa taala dan memberikan perhatian kepada hamba-hambanya. Sesungguhnya manusia walaupun diberikan pemahaman, akal, dan kecerdasan namun akal mereka tidak akan mungkin mampu untuk mengatur secara umum maslahat untuk umat seluruhnya guna menjadikan umat yang kuat dan saling mengayomi serta setara dalam pemenuhan hak. Olehnya para rasul datang untuk mengajarkan kepada manusia apa yang bermanfaat bagi mereka dan melarang dari hal yang membahayakan mereka.
  5. Hendaknya ditanamkan rasa cinta kepada Rasulullah agar anak mampu mentaatinya, mengikuti jejaknya, serta mengagungkannya. Dengannya anak akan mendahulukan rasa cintanya kepada rasul daripada rasa cinta kepada makhluk selainnya. Demikian juga hendaknya ditanamkan loyalitas terhadap siapa saja yang loyal kepada Rasulullah dan sikap permusuhan kepada siapa pun yang memusuhi beliau. Termasuk di antara bagian loyalitas tersebut adalah rasa pengagungan terhadap nama beliau ketika disebutkan serta bersholawat dan mengucapkan salam kepada beliau. Juga dengan mengagungkan sifat-sifat dan keutamaan-keutamaan beliau. beliau adalah orang yang memiliki kasih sayang dan simpati yang begitu agung kepada umat manusia di antara bentuk bagian atas tersebut ialah dengan menghormati beliau di sisi kubur beliau yang ada pada masjid nabawi dengan merendahkan suara bagi siapa saja yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala untuk mengunjungi masjid tersebut dan berdiri di sisi kubur beliau.
Bagaimana Cara Mengajarkan Anak Kita Rasa Cinta Kepada Nabi?

  1. Hendaknya kita menegaskan kepada anak bahwasanya Allah subhanahu wa taala mencintai Nabi-Nya dan Allah telah memilihnya dan memuliakannya di atas seluruh manusia. Hal itu menjadikan kita begitu mencintainya. Tandanya kita mengajarkan kepada anak bahwa rasa cinta kepada Nabi adalah tanda cinta kepada Allah. Maka barangsiapa yang mencintai rasul, ia telah mencintai Allah subhanahu wa taala dengan sebenar-benarnya.
  2. Ingatkan kepada anak kita bahwa Nabi adalah sebuah bentuk rahmat kepada semesta alam dengan hidayah dan penyampaian agama yang mulia ini dan Nabi pula akan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman dengan syafaatnya kepada mereka pada hari kiamat.
  3. Encourage children to read chapters of the prophet’s noble biography. This biography teaches children that the prophet (may Allah’s peace and blessings be upon him) is the example and role model to everyone. We must mention his Allah-given miracles (may Allah’s peace and blessings be upon him), his great morals, his support for the oppressed, his sympathy for the poor, his care of the orphans, and his compassion for the weak. In doing all of this, we should use a language that fit their age and suit their mental stage. We must diversify our tools to meet children’s needs and requirements for growth and to take into consideration the nature of individual differences and environmental conditions.
  4. Hendkanya dibacakan kepada anak penggalan perjalanan hidup Nabi . Dengan demikian anak akan mengetahui bahwasanya rasulullah adalah suri tauladan yang paling tinggi untuk kemanusiaan. Hendaknya disebutkan juga mukjizat-mukjizat, akhlak beliau yang begitu mulia, pertolongan beliau bagi orang-orang yang dizalimi, simpati beliau kepada fakir miskin, wasiat beliau kepada anak yatim, dan kasih sayang beliau kepada orang-orang yang lemah. Hendaknya bahasa yang digunakan mudah dipahami oleh sang anak. Hendaknya kita hanya menyebutkan hal-hal yang sesuai dengan level akal anak tersebut agar mereka mudah memahaminya. Hendaknya kita berusaha untuk menjadikan metode penyampaian kisah-kisah tersebut beraneka ragam agar kita memenuhi kebutuhan pertumbuhan yang sesuai untuk tingkat umur anak. Hendaknya juga diperhatikan perbedaan antara anak yang satu dengan anak yang lain serta faktor lingkungan yang ada.
  5. Sebaiknya anak melihat dan menyaksikan pada diri kedua orang tuanya dan lingkungannya bentuk pengagungan kepada Nabi, sunnahnya, dan sabda-sabda nya. Hendaknya anak juga menyaksikan semangat untuk mencontoh dan mengikuti Nabi, senantiasa bershalawat kepada Nabi ketika namanya disebutkan. Penerapan yang dilakukan oleh kedua orang tua adalah faktor yang paling besar dalam pendidikan. Ketika seorang ayah melakukan ibadah-ibadah sunnah dan mengatakan kepada anaknya demikianlah yang dilakukan oleh, maka hal itu akan memberikan pengaruh besar dalam proses pengajaran dan pendidikan keyakinan yang benar. Rasul adalah suri tauladan yang paling tinggi. Hendaknya para pendidik mencontoh beliau dan berjalan di atas petunjuknya, serta mempraktekkan sunnah-sunnahnya bersama dengan anak didik.
  6. Sebaiknya diajarkan kepada anak untuk menghafalkan sebagian hadis-hadis shahih yang menunjukkan kesempurnaan agama Islam, sifat-sifat Nabi, dan keutamaan para sahabatnya. Hadis-hadis memiliki pengaruh yang besar pada keimanan dan perilaku. Demikian pula pada pembinaan diri. Orang tua bisa mengadakan perlombaanan menghafal hadis-hadis ringkas yang memiliki makna jelas juga mencakup akhlak-akhlak yang penting sesuai dengan tingkat umur anak. Perlu diperhatikan penggunaan metode yang menarik juga pengadaan hadiah bagi peserta perlombaan tersebut.
  7. Dengan menyebutkan kisah-kisah para sahabat dan bagaimana Nabi  berinteraksi dengan mereka serta bagaimana pengagungan mereka kepada Nabi dan semangat mereka menjaga beliau. Secara khusus juga hendaknya disebutkan kisah-kisah para sahabat muda seperti kisah Anas bin Malik dalam mengikuti Nabi dengan sangat sungguh-sungguh. Pada suatu ketika ada seorang tukang jahit yang mengundang Nabi untuk memakan makanan yang ia buat. Anas berkata, “Aku pun ikut bersama Rasulullah untuk makan maka Rasulullah mendekatkan Sepotong roti dari gandum dan kuah yang bersisi labu dan potongan daging kering. Anas berkata: “Aku melihat Rasulullah memilih-milih buah labu dalam bejana tersebut, maka aku selalu menyukai labu setelah hari itu.” Tsumamah menyebutkan dari Anas, “Aku lalu mengumpulkan buah labu ke hadapan beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 5439). Maka hendaknya seorang pendidik ber
  8. Mengajarkan apa dampak yang dihasilkan dari rasa cinta tersebut. Di antaranya: hadis yang diriwayatkan oleh Anas radhiyallahu’anhu bahwasanya ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Nabi tentang hari kiama. Dia bertanya, “Kapan hari kiamat?” Nabi bersabda,, “Apa yang kau siapkan untuknya?” Ia menjawab, “Tidak ada kecuali aku mencintai Allah dan rasul-Nya”. Nabi bersabda, “Engkau akan bersama dengan yang engkau cintai”. Anas berkata: “Tidaklah kami bahagia terhadap sesuatu melebihi kebahagiaan kami terhadap sabda rasulullah engkau bersama dengan orang yang engkau cintai”.
    Anas mengatakan, “Aku mencintai Nabi, Abu Bakar dan Umar. Aku berharap akan bersama dengan mereka disebabkan karena rasa cintaku kepada mereka walaupun aku aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka”.
  9. Membantu anak dalam proses produktif kreatif yang berkaitan dengan cinta kepada Nabi seperti membuat puisi, membacakan kisah, berpidato, membuat tulisan dan memotivasi dalam ajang perlombaan yang beraneka ragam dalam tema mencintai Nabi.

PILAR KELIMA:

IMAN KEPADA HARI KIAMAT

Keimanan kepada hari kiamat meliputi iman kepada kematian, kebangkitan, hisab, pembalasan, sirat, timbangan, surga, dan neraka. Seorang anak akan mulai memahami secara jelas masalah-masalah terkait hari kiamat setelah mencapai usia tamyiz. Adapun sebelum itu maka sebaiknya pembicaraan tentang itu dilakukan dengan sangat singkat dan umum yaitu dengan menjelaskan kepada anak bahwasanya ada yang disebut kehidupan yang lain. Maksudnya, Allah subhanahu wa taala menciptakan surga sebagai tempat tinggal orang-orang yang beriman dan Allah menciptakan neraka sebagai tempat tinggal orang-orang yang kufur.

Di antara nilai-nilai pendidikan yang hendaknya ditanamkan pada jiwa anak terkait dengan keimanan kepada hari akhir adalah sebagai berikut:

  1. Hendaknya dijelaskan kepada anak bahwa Allah tidak akan mendiamkan kezaliman dan tidak akan membiarkan orang zalim tanpa ada balasan. Allah juga tidak akan membiarkan orang yang dizalimi tanpa pertolongan juga tidak akan membiarkan orang yang berbuat baik tanpa memberinya balasan baik atau pahala. Kita menyaksikan dalam kehidupan dunia ada yang hidup penuh kezaliman dan mati dalam keadaan tersebut. Olehnya pasti ada kehidupan lain selain dari kehidupan yang kita rasakan saat ini di mana setiap orang yang berbuat baik akan dibalas, demikian pula orang yang berbuat buruk, serta setiap pemilik hak akan mengambil haknya.
  2. Mengobrol dengan anak tentang kematian dan hari akhirat dengan cara yang lembut yang menunjukkan rahmat Allah, ampunan-Nya, dan kelembutan-Nya bagi hambahamba-Nya. Hal perlu dilakukan itu agar pikiran anak tidak dihantui dengan pikiran-pikiran keliru yang mengganjal benaknya. Bisa juga mengaitkan hal tersebut dengan makhluk hidup yang memiliki fase hidup. Sedangkan manusia diunggulkan karena Allah menjadikannya unggul dengan membebaninya syariat dan menunjukkan seluruh makhluk hidup yang ada ada untuknya serta menjanjikannya balasan.
  3. Mengobrol dengan anak tentang kematian dan hari akhirat dengan cara yang lembut yang menunjukkan rahmat Allah, ampunan-Nya, dan kelembutan-Nya bagi hambahamba-Nya. Hal perlu dilakukan itu agar pikiran anak tidak dihantui dengan pikiran-pikiran keliru yang mengganjal benaknya. Bisa juga mengaitkan hal tersebut dengan makhluk hidup yang memiliki fase hidup. Sedangkan manusia diunggulkan karena Allah menjadikannya unggul dengan membebaninya syariat dan menunjukkan seluruh makhluk hidup yang ada ada untuknya serta menjanjikannya balasan.
  4. Hendaknya dijelaskan kepada anak bahwa Allah tidak akan mendiamkan kezaliman dan tidak akan membiarkan orang zalim tanpa ada balasan. Allah juga tidak akan membiarkan orang yang dizalimi tanpa pertolongan juga tidak akan membiarkan orang yang berbuat baik tanpa memberinya balasan baik atau pahala. Kita menyaksikan dalam kehidupan dunia ada yang hidup penuh kezaliman dan mati dalam keadaan tersebut. Olehnya pasti ada kehidupan lain selain dari kehidupan yang kita rasakan saat ini di mana setiap orang yang berbuat baik akan dibalas, demikian pula orang yang berbuat buruk, serta setiap pemilik hak akan mengambil haknya.

PILAR KE-ENAM:

IMAN KEPADA TAKDIR

Keimanan kepada takdir meliputi iman terhadap kesempurnaan ilmu Allah, penulisan-Nya, penetapan-Nya, penciptaan-Nya, dan kehendak-Nya. Anak tidak mampu memahami takdir pada ada usia dini. Sebagian ahli berpendapat bahwa anak belum mumpuni untuk memahami makna dari takdir hingga ia mencapai usia sembilan tahun. Terdapat beberapa nilai-nilai pendidikan yang hendaknya ditanamkan kepada anak berkaitan dengan keimanan kepada takdir:

  1. Perlu diingat bahwasanya landasan pembahasan ini ialah hadis yang diriwayatkan dari Abul Abbas Abdullah Bin Abbas radhiyallahu’anhuma ia berkata, “Aku dibonceng oleh Nabi lalu beliau bersabda: «Wahai anak kecil, maukah kamu aku ajari beberapa kalimat yang Allah akan memberimu manfaat.» Aku menjawab; «Ya.»
    Lalu beliau bersabda: «Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu, Jagalah Allah niscaya engkau mendapatiNya di hadapanmu. Ingatlah Dia di waktu lapang niscaya Dia akan ingat kepadamu di waktu sempit. Jika engkau meminta maka mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan maka mohonlah pertolongan kepada Allah. Telah kering pena dengan apa yang telah terjadi. Seandainya seluruh makhluk hendak memberi manfaat kepadamu dengan sesuatu yang Allah tidak menetapkan padamu, niscaya mereka tidak akan mampu memberikan manfaat kepadamu. Dan seandainya mereka hendak mencelakakan dirimu dengan sesuatu yang Allah tidak menetapkan padamu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakakanmu. Dan ketahuilah bahwa di dalam kesabaran terhadap hal yang engkau benci terdapat banyak kebaikan. Bahwa pertolongan itu (datang) setelah kesabaran, dan kelapangan itu (datang) setelah kesempitan serta bahwa kemudahan itu (datang) setelah kesulitan.» (HR.Ahmad no. 2803). Hadis ini adalah mata air pendidikan yang mencakup arahan baik dari Nabi kepada umatnya untuk memperhatikan tumbuh kembang anak di atas akidah yang benar.
  2. Termasuk prinsip dalam hal ini adalah menghindari pembicaraan dalam permasalahan takdir bersama dengan anak pada usia dini. Hal yang mungkin bisa disampikan kepada anak dalam permasalahan ini ialah penjelasan betapa luasnya ilmu Allah yang terdahulu dan luasnya takdir serta cakupannya yang begitu luas terhadap seluruh makhluk-Nya. Demikian juga penjelasan tentang kehendak Allah subhanahu wa taala bersamaan dengan kebebasan manusia untuk melakukan hal yang dia kehendaki serta pertanggungjawaban manusia secara penuh terhadap apa yang telah dilakukan berdasarkan pilihannya sendiri. Demikian pula manusia berhak mendapatkan balasan atau hukuman terhadap apa yang ia kerjakan secara umum. Perlu di ketahui bahwasanya apabila masalah takdir ini menyibukkan fikiran anak dan membuatnya bingung maka hendaknya seorang pendidik menjelaskannya sebisa mungkin dengan cara yang sederhana yang mampu dicerna oleh akal anak.
  3. Mendidik anak untuk senantiasa meminta kepada Allah dan tidak meminta kepada selain-Nya. Juga agar anak senantiasa meminta pertolongan Allah Semata. Memahamkan kepada anak bahwa doa hanya ditujukan kepada Allah. hendaknya anak mengetahui bahwasanya tawakal itu hanya kepada Allah dan bersandar hanyalah kepadanya. Hendaknya anak diajari untuk bersabar terhadap ketetapan Allah dan takdir-Nya.
  4. Hendaknya anak mengetahui bahwasanya Allah tidak menginginkan dari takdir tersebut kecuali kebaikan. Hendaknya dipahamkan bahwa kelak anak akan bertemu dengan takdir-takdir Allah dalam kehidupannya. Oleh sebab itu, hendaknya jiwa tidak merasa sempit dan kesal. Hendaknya kesulitan-kesulitan hidup dihadapi dengan jiwa yang ridha kepada ketetapan dan takdir Allah. Anak hendaknya mengetahui dan meyakini bahwasanya: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal” (QS. At-Taubah : 51).
  5. Hendaknya anak mengerti bahwa semua perkara yang terjadi di tangan Allah. Allah subhanahu wa taala melakukan apa yang dia kehendaki dan ia pilih karena Allah yang memiliki aturan mutlak dalam kerajaan-Nya. Hal ini akan menambah keterikatan anak kepada Allah yang telah menciptakannya dan menjadikannya selalu menuju kepada Allah. Kemudian anak akan menggantungkan seluruh cita-cita, doa, dan harapannya hanya kepada Allah.
  6. Keimanan terhadap pilar ini akan merealisasikan keseimbangan dan ketenangan hati pada jiwa anak. Ketika seorang mukmin merasakan bahwa semua yang dia dapatkan (baik itu berupa kebaikan ataupun keburukan) baik baginya, maka ia yakin bahwasanya tidak ada sesuatu yang buruk secara mutlak. Olehnya hal itu akan memberikan ketenangan dan kedamaian jiwa. Juga akan menjadikannya menghadapi semua kesulitan, kesukaran dan keresahan dengan jiwa yang lapang terhadap ketetapan dan takdir Allah. Kemudian dia akan menyerahkan seluruh perkaranya kepada Allah dan hidup dengan ketenangan hati dan pikiran. Barangsiapa yang beriman kepada ada takdir Allah subhanahu wa taala tidak akan merasa kesal, jengkel atau dongkol ketika ditimpa musibah. Ia akan menyerahkan semuanya pada takdir Allah dan mengharapkan pahala di sisi-Nya serta ketika ditimpa musibah ia akan mengingat firman Allah subhanahu wa taala: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji´uun” . Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157). .
  7. Mungkin pula mengambil manfaat dari kisah-kisah kesulitan hidup orang lain. Pada awalnya orang tersebut merasakan kesempitan kemudian Allah subhanahu wa taala menampakan kebaikan dari takdir Allah bagi mereka. Kemudian keadaan mereka berubah menjadi lebih baik.
  8. keimanan terhadap takdir terangkum dalam keyakinan bahwasanya Allah subhanahu wa taala adalah zat yang mengetahui segala sesuatunya secara umum maupun rinci, bahwa Allah menuliskan hal yang telah Allah ketahui dari takdir-takdir seluruh makhluk-Nya hingga hari kiamat di Lauhul Mahfudz, dan bahwa seluruh makhluk dan benda-benda tidak akan ada kecuali disebabkan kehendak dan penciptaan Allah.
Back to top button