CONTOH PRAKTIS MENJAWAB PERTANYAAN ANAK TERKAIT MASALAH KEIMANAN

01 Belief in Allah
01 Keimanan Kepada Allah
02 Iman Kepada Malaikat
03 Iman Kepada Kitab-Kitab
04 Iman Kepada Para Rasul
05 Iman Kepada Hari Akhir
06 Iman Kepada Takdir

Jawaban-jawaban yang tertera dalam pembahasan ini ditujukan kepada ayah dan ibu serta semua yang berinteraksi dengan pertanyaan anak. Entah itu guru, pendidik, dai, dan orang-orang yang kita harapn bisa menyesuaikan inti jawaban dengan umur anak dan tingkat kemampuannya. Itu karena kita tidak bisa menetapkan satu jawaban untuk semua tingkatan. Padahal umur, akal, dan kemampuan anak berbeda-beda. Oleh sebab itu yang paling penting dalam pembahasan ini adalah ruh jawaban dan hakikat nya bukan kalimatnya. Demikian pula keragaman kata ganti pada jawaban-jawaban kita antara jawaban langsung dan tidak langsung agar kita mampu mempersembahkan dalam tulisan ini sebuah gambaran yang bisa dipahami dengan baik oleh pembaca yang budiman. Diharapkan para pembaca-lah nanti yang bisa mengambil inti dari jawaban-jawaban yang telah diberikan dan menyesuaikan cara penyampaiannya dengan metode yang yang sesuai untuk anaknya.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan anak yang terkait permasalahan-permasalahan keimanan hendaknya orang tua memiliki dasar-dasar minimal terkait wawasan keislaman. Dengannya orang tua bisa menyampaikan pemahaman keagamaan yang paling prioritas untuk menjelaskan hal-hal gaib kepada anak-anak mereka dengan bahasa yang sesuai dengan akal dan kemampuan mereka. Kesulitan yang dihadapi seorang pendidik secara umum bukan terbatas hanya pada ketersediaan informasi dan ilmu saja, akan tetapi juga pada penggubahan informasi tersebut pada suatu format yang dapat diterima dan dipahami oleh akal anak. Juga pada metode menjelaskan yang sesuai dengan zaman, tempat dan keadaan di sekitar anak.

Catatan Penting : Siapa yang mengira bahwasanya keberadaan pertanyaan-pertanyaan anak itu adalah tanda kesalahan dalam mendidik anaknya maka dia salah atau keliru. Keadaan ini pada anak dianggap sebagai fenomena yang baik dan sehat yang menggambarkan bahwa otak dan akal anak berkembangan alami dan pola pikirnya semakin logis. Jika ada kesalahan maka itu pada ketidakmampuan orang tua untuk memahami pertumbuhan anak dan keterbukaan akalnya serta kemampuan akal tersebut untuk mencari tahu rahasia segala hal yang berada disekitarnya. Oleh sebab itu hendaknya orang tua dan semua yang berinteraksi dengan anak bersungguh-sungguh dalam memberikan jawaban yang memuaskan untuk anak sebisa mungkin. Jawaban yang memuaskan memberikan andil bagi kestabilan jiwa, pikiran dan interaksi anak. Berbeda halnya dengan jawaban-jawaban yang yang tidak jelas atau reaksi yang keliru yang dapat memberi saham pada bertambahnya kebingungan pada sang anak. Kebingungan tersebut akan melahirkan ketidakstabilan pada perilaku dan dapat melahirkan kesalahan pada pola pikir dan interaksi anak.
Masalah-masalah pada orang dewasa tidak dilahirkan pada satu waktu sekaligus. Api itu tumbuh dari bara yang kecil. Olehnya banyak dari sifat-sifat buruk pada manusia muncul sebagai bibit kecil yang terus disirami dengan sikap abai dan menunda-nunda. Dipupuk pula dengan sikap acuh terhadap air kehidupan hingga sifat-sifat itu tumbuh dan berkembang mengakar pada jiwa hingga sulit untuk dicabut dan dihilangkan.

Pertanyaan Terkait

Keimanan Kepada Allah

Kebanyakan pertanyaan yang mengganjal pikiran anak pada usia dini adalah pertanyaan-pertanyaan yang terkait Allah subhanahu wa taala. Di sini kita akan menyebutkan pertanyaan yang banyak ditanyakan oleh anak kepada kedua orang tuanya.

Pertanyaan

Siapa Allah

Hendaknya kita tidak menunggu anak bertanya tentang Allah, akan tetapi hendaknya kita yang selalu memulai pembicaraan tentang Allah subhanahu wa taala pada setiap kesempatan. Jawaban yang benar untuk pertanyaan anak terkait Allah subhanahu wa taala dan sifat-sifatnya akan memberikan pondasi keyakinan tauhid dan keimanan kepada Allah pada akal dan hati sang anak. Oleh sebab itu metode terbaik adalah dengan memalingkan pikiran anak dari memikirkan zat Allah subhanahu wa taala kepada nikmat-nikmat dan keajaiban-keajaiban ciptaan-Nya. Itu semua menjadi bukti keberadaan Allah. Langit, bintang-bintang, matahari, bulan, lautan, pepohonan dan lain sebagainya adalah contohnya. Hendaknya anak diingatkan tentang karunia Allah pada dirinya berupa penciptaan dirinya dan anggota tubuhnya. Mulai dari kedua mata, kedua telinga, mulut, lidah kedua tangan kedua kaki, dan semua tubuhnya. Hendaknya disampaikan kepada anak bahwa langit diciptakan oleh Allah demikian pula bumi serta pepohonan. Semuanya diciptakan oleh Allah. Begitu seterusnya hingga anak terbiasa dengan kalimat-kalimat tersebut. Ketika ia bertanya kepada kita, “Siapakah Allah itu?” hendaknya dijawab dengan sederhana bahwasanya Allah adalah zat yang menciptakan segala sesuatu yang ada disekitar kita. Hendaknya kita memberikan banyak contoh untuk menjelaskan hal tersebut.

Baca selengkapnya

Siapa Allah?

Apabila kita perlihatkan kepada anak beragam makhluk yang ada di langit serta dijelaskan padanya tentang aturan yang begitu tertata dengan sangat baik , kita hendaknya mengatakan kepada anak: “Apakah kamu melihat keteraturan yang begitu baik ini?” Sungguh yang menciptakan keteraturan tersebut adalah Allah subhanahu wa taala. Pada saat itu anak akan merasakan keberadaan Rabbnya melalui ilmu dan bukti-bukti. Hendaknya disampaikan bahwasanya Allah subhanahu wa taala yang menciptakan segala sesuatu. Tidak ada yang semisal dengan-Nya. Dia adalah zat yang maha penyayang, maha memberi rezeki, dan maha mulia. Allah memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang semuanya baik dan indah. Oleh sebab itu, Allah satu-satunya yang paling berhak untuk diibadahi. Tidak ada sekutu baginya. Perlu dijelaskan bahwa Allah subhanahu wa taala mencintai anak-anak dan memerintahkan kepada orang dewasa untuk memperhatikan, berbuat baik, dan berusaha mengucurkan kebaikan bagi anak-anak dan seluruh manusia. Allah akan menghisab kita atas amalan-amalan kita yang baik dan buruk serta memberikan pahala atau hukuman. Allah yang membalas orang yang berbuat baik karena perbuatan baiknya dan membalas orang yang berbuat jahat karena perbuatan jahatnya. Termasuk hal yang bermanfaat adalah mengajarkan surah-surah pendek. Teknik tersebut berisi sebaik-baiknya jawaban tentang zat Allah dan sifat-sifatnya. Dialah Allah yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan dia. Kita juga dapat bertanyan kepada anak mseperti contoh berikut. “Siapa yang memberikan kamu pakaian yang bagus ini?” Dia kan menjawab, “Ayah.” “Siapa yang mengantarkan kamu ke sekolah?” Dia kan menjawab, “Ayah.” “Kalau kamu sakit siapa yang merawatmu dan mengantarkan kamu ke dokter?” Dia akan menjawab, “Ayah.” “Siapa yang membawamu rekreasi jika tiba masa liburan?” Dia akan menjawab, “Ayah.” “Jadi ayahmu adalah orang yang mengurusi segala keperluanmu?” Dia akan menjawab, “Iya.” “Demikian pula Allah. Dia-lah yang mengurusi kita semua. Allah sang pencipta segala sesuatu. Segala sesuatu yang kamu lihat di sekitarmu adalah ciptaan Allah. Matahari, bulan, awan, lautan, gunung, penciptaan manusia, hewan, burung, penciptaan malaikat dan jin aadalah ciptaan Allah. Allah adalah pencipta segala makhluk. Allah yang maha mulia, maha penyayang yang mengurusi kita dan memperhatikan kita. Allah mencintai kita dan selalu mendatangkan bagi kita kebaikan.”

Pertanyaan

Apakah Bentuk Allah Seperti Manusia

“Tidak. Allah tidak seperti kita. Allah tidak semisal dengan apa pun. Dia yang menciptakan kita dan semua manusia. Dia yang menciptakan pepohonan, sungai, laut dan segala sesuatu di dunia ini. Dia-lah sumber kekuatan. Jika menghendaki sesuatu maka ia berkata, “Jadilah!” maka jadilah yang Dia ingnkan. Allah berbeda dengan manusia. Manusia tidak bisa menciptakan manusia, namun Allah bisa melakukannya dan melakukan apa saja yang Dia inginkan. Perbedaan yang lain ialah tidak ada yang bisa melihat Allah di kedidupan dunia ini. Maka tidak ada yang bisa menjelaskan bentuk-Nya. Kita pun tidak bisa melihat Allah dengan segala cahaya-Nya dan keindahan-Nya. Kemampuan kita terbatas.”

Baca selengkapnya

Apakah Bentuk Allah Seperti Manusia?

Setelah itu kita minta kepada anak untuk memandang matahari secara langsung tanpa mengedipkan mata. Lalu kita tanyakan kepadanya, “Apakah kamu bisa melihat matahari itu secara terus-menerus?”
Dia pasti menjawab, “Tidak.”
Katakan, “Demikian juga Allah, sayangku.. Cahaya Allah tidak sanggup kita pandang namun ketika kita masuk surga, kita akan melihat Allah dengan izin-Nya.
Saat ini, mungkin sang anak akan protes dan bertanya, “Bagaimana bisa Allah tidak semisal dengan apapun?”
Pada saat ini, hendaknya kita menjelaskan dengan penuh ketenangan. “Walaupun akal kita semakin maju dan berkembang, akal tersebut tetaplah akal manusia yang punya keterbatasan. Akal kita bisa mengetahui apa saja sesuai kehendak Allah. Kita tidak mengetahui selain itu. Mustahil bagi kita untuk mempelajari segala sesuatu karena kita adalah manusia.”

Bisa juga kita katakan, “Kalau Allah itu manusia seperti kita, maka Allah pasti sakit, makan, minum dan mati seperti kita akan tetapi Allah tidak pernah sakit, makan, minum dan mati. Allah senantiasa ada. Dialah pencipta langit dan bumi serta segala sesuatu yang ada di alam ini. Allah tidak semisal dengan apapun.”
Bisa pula kita tanyakan kepada anak, “Apakah kita sebagai manusia jika menginginkan sesuatu kemudian kita katakan, “Jadilah!” maka akan terjadi?”
Anak akan menjawab, “Tidak”. Dengan begini kita bisa mencapai kesimpulan bersama dengan anak kita bahwa Allah bukanlah manusia seperti kita. Dia adalah zat yang maha pencipta.
Kita bisa katakan kepada anak, “Pendengaran kita terbatas. Kita hanya bisa mendengar suara dari jarak tertentu. Jika kita bisa mendengar semua hal pasti kita akan lelah. Pandangan kita juga terbatas. Kita hanya bisa memandang hal-hal yang berada pada jarak tertentu. Kita jiga tidak bisa melihat apa saja yang ada di balik dinding. Akal kita juga seperti itu. Akal kita terbatas. Akal kita tidak mampu memahami segala hal. Semenjak Allah menciptakan manusia sampai hari ini, pengetahuan yang tidak kita ketahui lebih bnayka dibandingkan paa yang kita ketahui. Misalnya ruh yang ada pada diri manusia belum kita ketahui hakikatnya padahal ruh tersebut dekat dengan kita. Jika demikian pengetahuan kita terhadap sesuaitu yang ada pada diri kita, bagaimana lagi dengan hal yang ada di luar diri kita? Oleh sebab itu, akal manusia selama masih terbatas maka akal itu tidak mampu mengetahui zat Allah. Di sisi lain, informasi tentang Allah tidak bisa dicapai dengan akal atau khayalan, namun hanya bisa dicapai dengan wahyu syariat semata. Alquran sudah menutup masalah ini dengan firman-Nya : “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (Q.S Al-Syura :11).
Ini semua menunjukkan betapa agungnya Allah yang kita cintai, harapkan, dan takuti. Keagungan-Nya nampak ketia Dia menjadikan kesempatan memandang-Nya hanya di surga-Nya sebagai kenikmatan terbesar di surga kelak secara mutlak.

Pertanyaan

Siapa Yang Menciptakan Allah

“Kalau ada yang mencitakan Allah, kamu pasti akan bertanya juga, siapa yang mecinptakannya, bukan begitu? Jadi, kita harus tahu bahwa sifat sang pencipta itu adalah Dia tidak diciptakan dan Dia-lah pencipta segala makhluk. Kalau sekiranya Dia juga makhluk, maka kita tidak menyembah-Nya atau mengikuti aturan serta perintah-Nya. Maka pertanyaan “Siapa yang menciptakan Allah?” tidak benar dan tidak ada maknyanya. Ini seperti jika kita bertanya kepada seseorang, “Berapa panjang garis keempat dari segi tiga?” Ini tidak ada jawabannya, karena segitiga hanya memiliki tiga garis. Kesalahan pada pertanyaan, “Siapa yang menciptakan Allah?” adalah bahwa kata “Menciptakan” dan “Allah” tidak bisa digandengankan (jika Allah sebagai objeknya) karena tuhan itu tidak diciptakan. Penciptaan terjadi pada makhluk dan tidak ada sesuatu pun yang dapat menciptakan Allah. Jika bisa maka Allah juga makluk. Allah ada tanpa ada permulaan dan penghabisan.”

Baca selengkapnya

Siapa Yang Menciptakan Allah?

“Taruhlah jika ada sesuatu yang menciptakan Allah, maka tersisa pertanyaan, siapa yang menciptakan pencipta Allah?! Lalu, siapa yang menciptakan pencipta pencipta Allah??! Demikian pertanyaan itu sampai tidak ada akhirnya dan itu adalah hal yang mustahil.” Untuk menjelaskan hal ini, mari kita lihat perumpamaan berikut. “Ada seorang tentara yang memiliki peluru. Tentara ini ingin menembakkan peluru, namun sebelum itu ia harus minta izin dulu kepada tentara yang ada di belakangnya. Tentara kedua ini harus meminta izin kepada tentara di belakangnya dahulu sebelum memberikan izin kepada tentara pertama. Demikian terus sampai tidak ada batasnya. Pertanyaannya, apakah tentara pertama akan menembakkan perlurunya? Jawabannya tidak karena ia tidak akan pernah sampai pada tentara yang bisa mengizinkannya untuk menembakan peluru tersebut. Namun, jika rantai itu berakhir pada seorang tentara yang tidak memiliki siapa pun di atasnya maka pasti tentara pertama akan mendapatkan izin untuk menembakkan pelurunya. Tanpa tentara tertinggi tersebut, peluru tidak akan ditembakkan berapa banyak pun jumlah tentara di atas tentara pertama. Mereka seperti buku yang diletakkan bersebelahan, betapapun banyaknya tidak mengartikan apapun walaupun sampai pada titik tanpa batas kecuali jika diletakkan sebelumnya angka satu dan seterusnya.”

Pertanyaan

Dari Mana Allah Berasal, Berapa Umurnya? Siapa Yang Ada Sebelum Allah

“Sayangku, ketika kamu mengetahui bahwa Allah tidak diciptakan, maka Allah pun tidak diperanakkan dan tidak beranak. Allah tidak memiliki permulaan dan akhir. Oleh sebab itu Allah tidak memiliki umur seperti kita, manusia. Allah zat yang maha agung, maha kaya, maha besar, dan memiliki kekuatan yang maha dahsyat. Dia sang maha perkasa dan maha penyayang yang memilki nama-nama yang baik (asmaaul husna) dan sifat yang tinggi. Allah memiliki sifat yang sempurna dan tidak memiliki kekurangan. Allah subhanahu wa taala yang menciptakan alam seperti Dia menciptakan segala makhluk yang ada.

Baca selengkapnya

Dari Mana Allah Berasal, Berapa Umurnya? Siapa Yang Ada Sebelum Allah?

Ini seperti pertanyaan “Siapa yang menciptakan Allah?”. Ini adalah pertanyaan yang keliru. Dialah Al-Awwal, tidak ada apapun sebelum Allah. Dia pula Al-Akhir tidak ada sesuatu pun setelah Allah. Allah berfirman : : “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”(QS. Al-Hadid : 3). Zaman seperti tempat. Keduanya tidak membatasi Allah. Waktu ialah makhluk seperti makhluk-makhluk Allah yang lain. Tidaklah mungkin bagi makhluk untuk meliputi penciptannya. Allah memiliki semua sifat yang sempurna dan indah. Perlu untuk dipertegas nasihat Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, “Setan senantiasa mendatangi salah seorang dari kalian seraya berkata; siapa yang menciptakan ini dan siapa yang menciptakan itu hingga akhirnya dia bertanya 'Lantas siapa yang menciptakan Tuhanmu?. Bila sudah sampai seperti itu maka hendaklah dia meminta perlindungan kepada Allah dan menghentikannya".(HR. Al-Bukhari no. 3276). Dengan meminta anak berlindung kepada Allah kita mengarahkan pikiran anak kepada hal lain secara tidak langsung agar ia tidak terus terseret oleh rentetan pertanyaan tersebut. Ini juga sebagai jawaban penting dalam hal ini. Pengalihan pikiran dari pertanyaan-pertanyaaan itu bukan karena tidak ada jawabannya, namun untuk menutup celah was-was setan.

Pertanyaan

Siapa Yang Ada Sebelum Allah

Kita harus berusaha menjauhkan pikiran anak dari memikirkan zat Allah dan mengarahkan pikarannya pada hal-hal yang memberikan manfaat dan faidah. Disini kita harus memahamkan anak bahwa membedakan anatara laki dan wanita adalah konsekuaensi dari pembedaan antara jenis makhluk hidup. Ini adalah karunia Allah yang diberikan_nya kepada makhluk-Nya/ Allah berfirman : “Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita.” (QS. An-Najm : 45).

Baca selengkapnya

Is Allah Male or Female?

Allah berada di atas pembedaan (pengklasifikasian) tersebut. Bahkan sebagian makhluk tidak bisa masuk dalam pembedaan ini seperti malaikat misalnya. Bahkan langit, awan, udara dan air tidak bisa disifatkan sebagai laki-laki atau perempuan. Jika ada maklhuk yang tidak bisa dibedakan dari sisi ini, maka Allah lebih utama. “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (Q.S Al-Syura :11).

Pertanyaan

Kenapa Kita Beriman Pada Keberadaan Allah? Apa Yang Menunjukkan Bahwa Allah Itu Ada

Iman kepada Allah adalah fitrah manusia yang tidak bisa diingkari seorangpun. Hal yang menunjukkan keberadaan Allah banyak sekali. Manusia menyingkap satu demi satu hal yang menunjukkan keberadaan Allah. Masing-masing sesuai dengan bidang yang ia geluti. Fitrah manusia menunjukkan keberadaan Allah. Allah berfirman : : “...(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. (QS. Ar-Rum : 30).

Baca selengkapnya

How do we know that Allah Exists?

The Answer

Setiap kita mendapati di dalam dirinya kekuatan yang membisikinya akan keagungan Allah dan kekuatan-Nya serta pemeliharaan-Nya. Ilmu pengetahuan juga menyingkap dan mempertegas keberadaan aturan yang sangat detil dalam alam semesta ini. Aturan detil tersebut haruslah ada yang menciptakannya dan mengaturnya. Bisa jadi aturan itu ada dengan sendirinya secara kebetulan tanpa ada sebab yang mendorongnya. Jika seperti itu maka tidak ada satu pun yang tahu bagaimana alam semesta ini terbentuk. Ini adalah satu kemungkinan. Kemungkinan yang lain, alam semesta ini membentuk dirinya sendiri dan mengaturnya sendiri. Kemungkinan ketiga, ada yang menciptakan alam semesta ini. Ketika kita perhatikan tiga kemungkinan di atas maka kita dapati bahwa kemungkinan pertama dan kedua itu mustahil. Jika kemungkinan pertama dan kedua tidak benar maka kemungkinan ketiga adalah yang benar dan jelas. Bahwa ada pencipta yang menciptkan alam semesta ini. Dia adalah Allah. Inilah yang disebutkan dalam Alquran Al-Karim pada firman-Nya : : “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri). Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)”. (QS. At-Thur : 35-36).
Di antara hal yang menunjukkan keberadaan Allah adalah jawaban doadoa, juga kesempurnaan penciptaan langit dan bumi. Allah berfirman : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran : 190).
Demikian juga kesempurnaan penciptaan manusia. Allah berfirman : “dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat : 21). Demikian pula pada penciptaan bintang-bintang, gunung-gunung, hewan-hewan dan lain sebagainya. Semua itu menunjukkan kehebatan sang pencipta. Hal-hal yang menunjukkan keberadaan Allah tersebar pada langit, diri kita, buah-buahan dan segala yang menunjukkan keberadaan sang pencipta yang maha esa. Keberadaan makhluk-makhluk tersebut pasti memiliki tujuan. Tujuannya ialah ibadah (penghambaan) kepada Allah semata tiada sekutu baginya. Untuk menjelaskan ini, kita bisa menceritakan kisah Abu Hanifah ketika ada kaum yang memintanya menunjukkan adanya tauhid rububiyah.
Abu Hanifah berkata kepada mereka, “Sebelum kita mendiskusikan masalah ini, tolong jelaskan kepadaku bagaimana bisa ada sebuah kapal yang penuh dengan makanan dan barang-barang. Kapal itu berlayar dengan sendirinya dan berlabuh dengan sendirinya. Kapal itu membongkar muatan dengan sendirinya dan kembali sendiri tanpa ada awak kapal yang mengaturnya?”
Kaum tersebut menjawab, “Itu mustahil. Selamanya tidak akan mungkin.”
Ia menjawab, “Jika hal itu mustahil terjadi pada suatu kapal, maka bagaimana itu bisa terjadi pada alam ini?! Tidak mungkin alam semseta yang sempurna ini ada tanpa pencipta yang maha kuasa dan mengetahui.”
Kita bisa katakan kepada anak, “Ketika kamu merasakan perih di perutmu, bukankah kamu tahu bahwa kamu sedang lapar? Kamu akan langsung mencari makanan untuk menghilangkan rasa lapar itu, bukan? Ketika kami haus, bukankah kamu akan mencari minuman yang bisa menghilangkan rasa haus itu? Ketika kami mencium aroma yang nyaman, bukan kamu juga merasa nyaman? Demikian pula sebaliknya ketika kamu mencium aroma yang tidak nyaman, bukan? Ketika kamu melihat bunga-bunga, langit, dan pemandangann yang indah di sekitar kita bukankan kamu akan merasa senang dan bahagia?”
“Seperti itulah wahai sayangku, ketika kita merasakan kebutuhan kita kepada sang maha agung yang mana kita senantiasa kembali kepadanya ketika kita membutuhkan agar kita selalu marasa tenang dan aman. Ketika kita merasa sempit dan sedih, kita akan langsung kembali dan mengadu kepada Allah. Jika kita meraasa bahagia kita memuji Allah atas kebahagiaan tersebut.”

Pertanyaan

Apakah Allah Melihat, Mendengar, Dan Berbicara Seperti Kita?

Allah berbicara dan mendengar serta melihat. Allah berfirman : “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya...” (QS. Al-Mujadilah : 1)
Allah berfirman: "Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat." (QS. Thaha : 46)
“Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”(QS. Huud : 112).

Baca selengkapnya

Apakah Allah Melihat, Mendengar, Dan Berbicara Seperti Kita?

Akan tetapi, tidak seperti kita berbicara, mendengar, dan melihat. Itu karena Allah berbeda dengan makhluk-Nya. Dia mendengarkan suara-suara sekecil apapun. Dia melihat segala sesuatu sejauh apapun. Allah mendengar segala sesuatu dan melihat segala hal. Namun pendengaran dan pengelhiatan-Nya tidak seperti pendengaran dan penglihatan makhluk yang serba kurang dan lemah. Allah berfimran : “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Al-Syura : 11)
Sebaiknya kita menggaitkan pembahasan ini dengan perilaku secara langsung. Kita bisa katakan, “Apakah layak bagi kita membicarakan hal yang tidak diridhai oleh Allah saat kita tahu bahwa Allah maha melihat dan mendengar? Apakah layak Dia melihat kita pada keadaan yang tidak Dia terima?!”

Pertanyaan

Apakah Allah Tidak Lapar Dan Haus

Allah memilki sifat yang sempurna dan dan tidak ada kekurangan sedikitpun. Lapar dan haus adalah bentuk kelemahan. Kelemahan tidak pantas disandarkan kepada Allah. Oleh sebab itu, maka Allah tidak membutuhkan makan dan minum karena Allah maha pencipta segala sesuatu yang tidak membutuhkan apa pun. Kalau Allah membutuhkan sesuatu maka Allah tidak sah dianggap sebagai tuhan. Allah adalah As-Shamad yang tidak makan dan tidak membutuhkan makan dan minum. Dia sang maha kaya dan tidak membutuhkan itu semua. Dia juga tempat berharap segala makhluk-Nya. Dia memberi rezeki, memberi makan dan memenuhi semua kebutuhan mereka.

Baca selengkapnya

Does Allah Get Hungry and Thirsty Like Us?

Bisa katakan kepada anak, “Tidak bisa dibandingkan antara makhluk dengan sang khalik. Tidak semua benda yang kita ciptakan dan temukan harus memilki sifat seperti kita, bukankah demikian? Allah tidak lapar dan haus”. Kita bisa bertanya, “Siapa yang menciptakan sepeda?” Dia akan menjawab bahwa dia yang menciptakan sepeda. Ok. “Anakku, mari kita membayangkan bersama ada sepeda yang bisa bicara dan bertanya kepada penciptanya, “Apa yang kamu makan?”...”Apa yang kamu minum?” Kira-kira, apa yang akan kamu katakan padanya?” Anak akan menjawab, “Aku katakan, “Itu bukan urusanmu..!” Apa faidahnya kalau kamu mnegetahuinya?” Apa akan menambah kegunaan utamamu? Fungsi utamamu adalah melaju dengan kencang tanpa macet sedikitpun.” OK... Jawablah, “Demikian juga kita wahai anakku... Allah menciptakaan kita untuk kepentingan tertentu. Allah berfimran : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat : 56)
“Pertanyaan semacam ini tidak akan memberi manfaat kepada kita dan tidak akan membantu kita untuk menuntaskan kepentingan utama kita ketika kita diciptakan. Bahkan sebaliknya, pertanyaan-pertanyaan semacam ini bisa memalingkan kita darinya. Akan tetapi, kapankah sepeda mendatangi kita dan bertanya kepada kita?” “Sepeda akan datang ketika ia rusak. Ia akan datang kepada kita yang menciptakannya untuk memperbaiki kerusakan itu, ya kan? Begitu pula kita kembali kepada Allah dengan berdoa ketika kita dapati diri kita mulai malas beribadah atau ketika kita ditimpa suatu keburukan.”

Pertanyaan

Sebesar Apa Kekuatan Allah

Jika kita berbicara tentang kekuatan atau kemampuan terbatas maka kita sedang membincangkan tentang suatu sifat yang ada kekurangannya karena muara kekuatan adalah kelemahan. Kelemahan tidak ada pada Allah. Jadi, kekuatan Allah itu mutlak. Tidak terbatas. Tidak bisa dilemahkan oleh apapun juga. Allah berfirman : “Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS.Al-Baqarah : 106)

Baca selengkapnya

Sebesar Apa Kekuatan Allah?

Jika Allah berkehendak maka ia berkata, “Jadilah!” maka jadilah yang Dia inginkan. Allah berkuasa atas segala sesuatu karena Allah menciptakan segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun di langit atau di bumi yang melemahkan-Nya. Kekuasaan dan kemampuan yang terbatas ada pada makhluk. Oleh sebab itu Allah satu-satunya yang berhak untuk disembah dan diibadahi serta dimintai karena Allah semata yang maha kuasa menjawab segala kebutuhan makhluk, memberi rezeki dan merealisasikan segala keinginan serta mengurusi segala keperluan hamba-Nya.

Pertanyaan

Allah Dimana? Sebesar Apa Ukurannya

Setelah anak memahami pada usia dini bahwa Allah yang menciptakannya dan Allah sangat mencintainya serta Allah memberikannya nikmat yang banyak, kita bisa menjelaskan kepadanya bahwa Allah berada di langit. Allah berfirman : : “Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?” (QS. Al-Mulk : 16)
Allah berada di langit dan ilmu-Nya berada di setiap tempat. Allah berfirman: “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada...” (QS. AlHadid : 4)

Baca selengkapnya

Allah Dimana? Sebesar Apa Ukurannya?

Kita tidak sepantasnya mengatakan bahwa Allah berada di semua tempat karena itu berarti bahwa Allah ada pada segala sesuatu. Itu tidak benar. Kita berusaha untuk mengikuti apa yang disebutkan di dalam sunnah Nabi.
Nabi pernah bertanya kepada seoang budak wanita, “Allah dimana?” Ia menjawab, “Di langit.” Beliau bertanya, “Siapa aku?” Ia menjawab, “Engkau rasulullah.” Nabi bersabda, “Merdekakanlah dia karea dia wanita beriman.”(HR. Muslim no. 537)

Walupun Allah berada di langit, Allah bisa melihat kita dan mendengarkan kita di mana saja. Hendaknya pula terus menerus ditekankan kepada anak bahwa Allah selalu melihatnya. Hal itu akan menumbuhkan kesadaran diri pada anak yang akan menjadikan ia mawas diri. Allah juga tidak dapat dibandingkan dengan apapun dari makhluk-Nya.
Allah lebih besar dari segala sesuatu. Jika ciptaan-Nya begitu besar dan agung maka pencipta-Nya lebih besar dan agung. Dialah yang meluluh-lantahkan gunung-gunung, menggerakkan samudera, memerintahkan kepada air untuk meresap ke dalam bumi. Tiada sesuatu pun terjadi di alam semesta ini kecuali atas perintah dan kehendak-Nya. Sang pencipta tidak butuh dengan makhluk. Langit adalah satu makhluk dari makhluk-Nya. Keberadaan Allah tidak bergantung dengan langit. Allah tidak membutuhkannya karena Allah maha kaya tidak membutuhkan apapun

Pertanyaan

Bagaimana Allah Bisa Melihat Kita Sedangkan Kita Tidak Dapat Melihat Allah

Indera pengelihatan yang diberikan oleh Allah di dunia ini sangatlah lemah dan tidak bisa kita gunakan untuk melihat banyak hal dengannya. Oleh sebab itu, manusia menggunakan kaca pembesar dan mikroskop. Jika manusia tidak mampu melihat sesuatu yang juga berupa makhluk ciptaan Allah maka sudah pasti dia lebih tidak mampu melihat Allah. Kemampuan manusia di dunia ini tidak menyokongnya untuk melihat Allah. Kita tidak mungkin melihat Allah namun kita beriman kepadaNya. Kita juga beriman bahwa Allah maha penyayang dan menyangi kita. Dia maha kuasa dan kuat atas segala sesuatu. Dia maha mengetahui segala sesuatu. Dia mengetahui bahwa sekarang kita membahas tentang-Nya. Allah berada di tempat yang jauh lebih tinggi dari kita. Oleh sebab itu, Dia melihat kita semua pada satu waktu. Seperti orang yang naik ke puncak bangunan, ia bisa melihat semua orang yang ada di jalan sedangkan mereka tidak melihatnya. Allah melihat kita sedang kita tidak melihat-Nya. Banyak hal yang tidak dapat kita lihat namun itu ada.

Baca selengkapnya

Bagaimana Allah Bisa Melihat Kita Sedangkan Kita Tidak Dapat Melihat Allah?

Hendaknya kita sebutkan pula kepada anak bahwa mata kita tidak bisa melihat segala hal. Kita tidak bisa melihat suara padahal kita mendengarkannya. Kita tidak bisa melihat udara padahal kita bisa merasakannya. Mata kita juga tidak bisa melihat Allah di dunia ini namun di surga insyaallah, mata kita akan menjadi lebih baik dan dapat memandang Allah. Oleh sebab itu, Allah berfirman : “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am : 103).

Pertanyaan

Bagaimana Allah Melihat Semua Manusia Sedang Mereka Banyak Sekali

Mari kita jawab pertanyaan ini secara praktis. Mari kita ajak anak berdiri di pinggir jalan dan kita katakan kepadanya, “Ayo, lihatlah orang-orang yang ada di jalan. Beri tahu kami berapa orang yang kamu lihat! Ayah dan ibu akan menghitung juga.” Setelah itu kita ajak anak untuk naik ke lantai dua rumah kita. Biarkan anak memperhatikan orang-orang yang ada di jalan dan menghitungnya. Kemudian kita naik lagi ke lantai yang lebih tinggi, lalu biarkan anak menghitung berapa orang yang ia lihat. Jika bisa, sediakan juga teropong agar kita bisa membuat ia melihat orang-orang dengan lebih baik dan menghitungnya lebih teliti. Dengan cara ini kita menjelaskan kepadanya bahwa kita tidak bisa mengukur banyak hal dengan ukuran kita sebagai manusia yang terbatas. Hendaknya kita jelaskan kepada anak bahwa kemampuan Allah lebih besar dari kemapuan setiap makhluk-Nya. Hendaknya kita tanamkan pada benaknya selalu bahwa “Allah maha kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah : 106).

Baca selengkapnya

Bagaimana Allah Melihat Semua Manusia Sedang Mereka Banyak Sekali?

Kita juga bisa bertanya kepada anak, “Apakah semut dapat melihat kita secara detil dan sempurna? Atau semut hanya bisa melihat bayangan kita?”
Anak akan menjawab bahwa semut hanya bisa melihat bagian yang sangat kecil dari jari kaki kita. Bagi semut jari kaki kita sudah seperti gunung yang begitu besar.
Kita tanyakan “Apakah mungkin semut bertanya kepada kita, “Bagaimana cara kalian melihat kami pada satu waktu?” Jika semut itu bertanya kepadamu, pasti kamu akan menjawab bahwa itu hal yang sudah pasti. Kemampuanmu melihat banyak semut dalam satu waktu sesuai dengan kemampuan yang Allah berikan kepadamu. Adapun semut maka kemapuannya terbatas. Mungkin saja ada beberapa rumah semut dalam satu ruangan. Kamu bisa melihat semuanya pada satu waktu. Namun semut sendiri kemampuannya terbatas, ia tidak bisa melihat apa yang kamu lihat. Ketika kita sepakat bahwa Allah tidak semisal dengan apapun dan Dia maha kuasa atas segala sesuatu, maka tidak tepat menanyakan kemampuan Allah dengan ukuran kemampuan kita yang terbatas. Bagi Allah itu hal yang sederhana. Kemampuan dan kekuasaan Allah lebih besar dari semua makhluk-Nya karena “Allah maha kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah : 106)

Pertanyaan

Apakah Allah Bisa Melihat Kita Saat Gelap? Bagaimana Allah Melihat Kita Saat Kita Sedang Berada Di Dalam Rumah Sedang Jendela Dan Pintu Tertutup

Hendaknya kita perlihatkan kepada anak bagaimana sinar X-Ray bekerja. Manusia yang diciptakan oleh Allah bisa melihat tulang yang ditutupi oleh daging dengan baik melalui X-Ray. Bagaimana dengan Rabb kita yang menciptakan manusia? Allah subhanahu wa taala sudah pasti bisa melihat kita saat kita berada di dalam rumah dan semua pintu tertutup. Tidak ada yang semisal dengan Allah. Allah tidak sama dengan manusia yang tertutupi pandangannya oleh bangunan-bangunan. Tidak mungkin sang pencipta seperti ciptaan-Nya. Itu karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sebaiknya jawaban dihubungkan dengan perilaku anak. Kita hendaknya menguatkan keyakinan bahwa anak senantiasa diawasi oleh Allah dan menguatkan kekuatan rohani yang ada pada diri anak.

Baca selengkapnya

Apakah Allah Bisa Melihat Kita Saat Gelap? Bagaimana Allah Melihat Kita Saat Kita Sedang Berada Di Dalam Rumah Sedang Jendela Dan Pintu Tertutup?

Hendaknya anak diajarkan bahwasanya Allah subhanahu wa taala memiliki seluruh sifat-sifat yang sempurna dan indah. Hendaknya anak juga mengetahui bahwa kekuasaan Allah subhanahu wa taala tidak memiliki batas maka Allah adalah zat yang maha kuasa. Allah berfirman : “Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah : 106)
Kekuasaannya senantiasa Agung tidak ada yang dapat melemahkan-Nya entah itu di bumi ataupun di langit. Tidak mungkin bagi kita untuk mengukur kekuasaan dan kemampuan Allah dengan kemampuan makhluk-Nya. Sebesar apapun kemampuan makhluk tersebut, Allah lebih agung dan lebih besar darinya. Untuk menjelaskan hal ini, kita bisa mencontohkan dengan rekaman kamera. Kamera mampu merekam benda kecil dan besar yang ada di dalam jam jarak tangkapnya. Allah lebih agung dan lebih berkuasa dan Allah subhanahu wa taala memiliki perumpamaan yang sangat tinggi. Allah bisa mengawasi seluruh manusia pada satu waktu karena kemampuannya dan kekuasaannya yang tidak terbatas. Allah subhanahu wa taala mengetahui dan ilmunya mencakup segala sesuatu.
Kita juga bisa membuat permisalan untuk menjelaskan hal ini. kita katakan, “Taruhlah ada sebuah perusahaan besar yang ingin mengawasi semua pegawai-pegawainya. Perusahaan ini meletakkan kamera-kamera tersembunyi untuk mengawasi tanpa sepengetahuan pegawai-pegawai tersebut. Dengan kamera itu pemilik perusahaan dapat mengawasi mereka sedang mereka tidak mengetahuinya melalui perantaraan layar-layar yang menampilkan apa yang terjadi pada setiap bagian perusahaan pada satu waktu. Apabila hamba yang lemah yang diciptakan oleh Allah mampu untuk melakukan hal tersebut, mengapa yang menciptakan manusia tidak mampu untuk melihat hamba-hambanya pada satu waktu?

Pertanyaan

Mengapa Manusia Mati Sementara Allah Tidak Mati

Kematian adalah bagian dari pada takdir Allah yang telah ditetapkan pada makhluk-makhluknya Allah subhanahu wa taala berfirman: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. AL-Ankabut : 57)
Oleh sebab itu kematian manusia adalah awal permulaan kehidupannya di akhirat dan kehidupan di akhirat adalah yang lebih penting.

Baca selengkapnya

Mengapa Manusia Mati Sementara Allah Tidak Mati?

Kematian adalah fenomena kelemahan yang terikat dengan kehidupan seluruh makhluk. Kelemahan tidak ada pada Allah karena Allah tidak diciptakan maka Allah tidak akan mati. Manusia diciptakan dan akan mati. Kehidupan Allah tidak seperti kehidupan kita. Kehidupan kita berakhir dengan kematian. Setiap makhluk akan mati dan tiada yang tersisa kecuali Allah. Kehidupan Allah yang sempurna berkonsekuensi adanya sifat-sifat sempurna pada zat-Nya, di antaranya ialah sifat Al-Hayy yang maha hidup dan tidak mati.

Pertanyaan

Apakah Allah Mencintaiku Seperti Aku Mencintainya

Allah maha pengampun dan penyayang, mencntai orang-orang yang baik dan jujur serta istikamah. Allah berfirman, “Dia mencintai mereka dan mereka mencintai Dia.” (QS. Al- Maidah : 54). Bentuk rasa cinta Allah kepada hamba-Nya ialah Allah memuliakan mereka, memperhatikan dan mengurus segala urusan mereka. Allah memberi mereka rezeki dan mengampuni mereka. Setiap kita merasakan kelembutan Allah dan pemuliaann-Nya. Allah menyukai hamba yang taat dan mendekatkan diri pada-Nya serta mencari sebab-sebab yang menjadikan Allah cinta padaya. Yaitu dengan menjaga salat lima waktu, berbakti kepada orang tua, sedekah, berbuat baik kepada orang lain, jujur, membaca Alquran, menjaga zikir-zikir dan amal saleh lainnya. Barang siapa yang melakukan hal tersebut maka Allah akan mencintainya.

Pertanyaan

Terkait Iman Kepada Malaikat

Mereka adalah makhluk Allah yang diciptakan dari cahaya. Allah menciptakan mereka sebelum menciptakan manusia. Mereka memiliki keinginan, akal, dan sayap-sayap. Mereka diciptakan dengan bentuk yang indah. Mereka mampu mengubah wujud menyerupai manusia. Mereka tidak makan dan minum. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah. Derajat mereka bertingkat-tingkat. Yang paling tinggi adalah Jibril ‘alaihissalam yang diberi tugas mengantarkan wahyu kepada para rasul. Ada pula Mikail dan Israfil serta yang lainnya. Ada juga para penjaga yang ditugasi menjaga hamba-hamba Allah setiap waktu. Jumlah mereka banyak sekali. Setiap malaikat memiliki tugas tersendiri yang harus ia tunaikan.

Malaikat itu sangat banyak. Tidak ada yang menghitungnya kecuali Allah. Di antara nama-nama malaikat itu ada Jibril, Mikail, Israfil, Ridwan, Malik. Ada juga pengusung arasy, para penjaga (Al-Hafazah), para pencatat amal, serta yang lainnya.

Allah menciptakan malaikat untuk mengerjakan kebaikan. Mereka adalah kebaikan mutlak dan mereka tidak mengerjakan keburukan bahkan tidak mengenalnya. Tempat asal malaikat adalah di langit. Ketika manusia di turunkan ke bumi, malaikat pun juga harus turun ke bumi untuk mengerjakan tugas yang telah ditetapkan oleh Allah untuk menjaga, memperhatikan, mengawasi, melaporkan, menolong dan memintakan ampunan serta menghadiri majelis-majelis zikir dan lain sebagianya.

Manusia tidak memiliki kemampuan untuk melihat malaikat pada bentuk yang Allah ciptakan. Oleh sebab itu malaikat terkadang mengubah wujudnya menjadi menyerupai manusia agar kita bisa melihatnya dan berinteraksi dengannya. Ini pernah terjadi ketika Jibril mengubah wujudnya menjadi seorang arab badui seperti yang disebutkan dalam hadis.

Mereka adalah makhluk Allah. Diciptakan dari api. Mereka juga ditugaskan mengerjakan perintah-perintah dan meninggalkan larang-larangan. Mereka juga mati sebagaimana makhluk yang lain mati. Kita tidak dapat melihat mereka karena kita tidak memiliki kemampuan untuk itu. Allah telah memberikan kepada mereka kemampuan yang berbeda dengan manusia. Mereka mampu terbang, berpindah dengan cepat, dan merubah wujud. Penciptaan jin berbeda dengan manusia. Manusia diciptakan dari tanah liat sedangkan jin diciptkana dari api.

Malaikat dicipatakan hidup terus menerus hingga hari ditiup sangkakala. Sedangkan jin mati sebelum itu. Malaikat maut bertugas mencabut ruh dengan perintah Allah ketika tiba ajalnya. “Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya.” (QS. Al-Zumar : 42). Pada sisi ini malaikat lebih kuat. Dalam kehidupan dunia ini, para setan juga takut dengan malaikat sebagaimana yang terjadi pada perang Badar ketika setan melihat malaikat yang diutus oleh Allah untuk menolong orang-orang yang beriman. Setan berkata kepada orang-orang kafir, "Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya takut kepada Allah". Dan Allah sangat keras siksa-Nya.” (QS. Al-Anfal : 48)

Ya, Malaikat adalah makhluk Allah. Segala sesuatu akan mati kecuali Allah. Dia-lah yang maha hidup dan berdiri sendiri. Allah berfirman : “Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah.” (QS. Al-Qhasas : 88)
Semua penduduk bumi akan mati demikian pula penduduk langit kecuali yang dikehendaki Allah. Tiada yang tersisa kecuali Allah yang maha Hidup dan tak akan pernah mati selamanya.

Pertanyaan

Terkait Iman Kepada Kitab-Kitab

Itu adalah kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah kepada para rasul-Nya untuk disampaikan sebagai risalah dan diterapkan sebagai syariat. Kitab-kitab itu adalah petunjuk dan rahmat bagi seluruh makhluk agar mereka bahagia di dunia dan akhirat. Yang sampai kepada kita bahwa Allah menurunkan kepada Ibrahim lembaran-lembaran suhuf, Az-Zabur kepada Dawud, Taurat kepada Musa, Injil kepada Isa dan Alquran kepada Nabi kita Muhammad.

Kalaulah saja alat sederhana yang dibuat oleh manusia membutuhkan buku panduan kecil untuk menjelaskan kepada kita cara menggunakannya dengan baik, bagaimanakah lagi dengan manusia yang diciptakan oleh Allah? Tentu kebutuhannya akan sebuah kitab yang menuntunya menuju jalan keselamatan dan kemenangan di dunia dan akhirat sangatlah besar. Allah berfirman : “Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. AL-Mulk : 14)
Alquran adalah mukjizat. Itu karena Nabi Muhammad adalah penutup para Nabi. Oleh sebab itu, mukjizat yang dibawanya haruslah ada terus menerus dan kekal sebab tidak ada Nabi setelah beliau. Harus ada hujah yang tegak atas semua makhluk dan tantangan dari Allah harus berlangsung sampai dengan hari kiamat. Tanda-tanda mukjizat Alquran banyak seklaai, di antaranya : Mukjizat dari sisi bahasa dan bayan (penjelasan). Itulah tanTanya Jawab Tentang Iman Bersama Anaktangan Allah kepada kaum Arab yang terkenal akan kefasihan lisannya. Manusia dan jin tidak mampu mendatangkan yang semisal dengan Alquran. Di sini terdapat bukti asal muasal Alquran yang bersumber dari ilahi.

Allah melakukan apa yang Dia kehendaki. Allah menyelipkan hikmah. Kita ketahui sebagiannya dan sebagian yang lain tidak kita ketahui. Bukti-bukti yang jelas menunjukkan bahwa kitab-kitab sebelum Alquran bukanlah kitab mukjizat. Oleh sebab itu, keberlangsungan kitab-kitab tersebut bukanlah hal yang dimaksudkan. Kitab-kitab terdahulu juga hanya mengandung syariat sementara bagi orang-orang terbatas saja.

Pertanyaan seperti ini biasanya disebutkan oleh anak yang mencapai usia SMP atau di atasnya. Kita harus menjelaskan dengan tenang dan bertumpu pada acuan akal untuk menjelaskan keabsahan Alquran. Kita bisa katakan pada anak bahwa sesuatu jika terulang maka akan menetap. Jika sesuatu tersebar maka akan dipastikan kebenarannya. Alquran diriwayatkan kepada kita secara mutawatir. Kemudian kita jelaskan apa makna mutawatir. Mutawatir ialah periwayatan orang banyak dari orang banyak pula yang tidak mungkin bersepakat untuk berdusta. Hal itu diketahui oleh para ahli dan orang awam. Orang Islam mewariskan Alquran dari generasi ke generasi. Mereka saling mempelajari Alquran di majelis-majelis, dibaca dalam salat-salat mereka, diajarkan pada anak-anak. Jikalau ada seorang ulama senior yang disegani salah membaca satu huruf saja tentu akan dibenarkan walau oleh seorang anak kecil sebelum orang-orang dewasa lainnya. Mereka mewariskan Alquran ini bersih dari tambahan apapun, terjaga dari kekurangan, dan terpelihara dari perubahan. Jikalah bukti ini dibantah maka terbantah pula banyak hakikat yang ditetapkan seperti keberadaan Nabi dan sahabatnya serta orang-orang yang terkenal dalam sejarah. Hal itu tentulah ditolak semua orang berakal. Allah juga telah menantang semua manusia dan jin untuk membuat seperti Alquran namun mereka semua tidak mampu. Dalam isi Alquran yang begitu panjang tidak ada kontradiksi, perbedaan dan kekurangan. Semua yang ada di dalamnya merupakan mukjizat kabar berita, penetapan syariat, hukum-hukum, dan perkataan yang menunjukkan bahwa Alquran tidak berasal dari manusia yang karya dan perkataanya bisa berubah-ubah dan berisi kekurangan. Alquran dari sisi Allah dan Dia yang berkomitmen untuk menjaganya.

Pertanyaan

Terkait Iman Kepada Para Rasul

Mereka adalah manusia dari anak cucu Adam. Allah memberikan wahyu kepada mereka berupa kenabian dan memerintahkan mereka untuk menyampaikan risalah kepada kaum mereka serta mengajak kaum tersebut untuk menyembah Allah semata. Rasul pertama adalah Adam dan yang terakhir adalah Muhammad. Jumlah para rasul sangatlah banyak karena Allah mengutus mereka kepada seluruh umat yang hidup di atas muka bumi. Olehnya selalu saja ada Nabi pada setiap fase sejarah yang mengajak kaumnya kepada jalan kebenaran.

Allah mengutus para rasul sebagai bentuk kasih sayang-Nya serta hidayah (petunjuk) kepada manusia. Rasul-rasul itu ditugasi menyampaikan risalah Allah kepada manusia. Rasul itu adalah seseorang yang dikenal dengan baik oleh kaumnya. Mereka bersaksi bahwa ia adalah seseorang yang yang baik sebelum datangnya wahyu kepadanya. Allah menjadikan para rasul suri tauladan yang baik yang bisa dilihat oleh manusia, mereka mengajarkan akhlak dan perilaku serta menjelaskan apa saja yang bermanfaat dan menjauhkan apa saja yang memberi mudharat. Dengan diutusnya para rasul, Allah menegakkan hujah atas para makhluk. Juga mengumpulkan manusia di atas satu agama. Yaitu penyembahan kepada Allah semata. Manusia membutuhkan orang-orang yang membimbing jalan yang menuntun mereka pada jalan yang benar dengan bahasa yang mereka pahami. Oleh sebab itu Allah menurunkan kitab-kitab kepada para rasul tersebut dengan bahasa kaumnya agar risalah dapat sampai dengan jelas dan benar.

Para Nabi adalah manusia. Pada diri mereka ada sifat-sifat manusia. Allah menjaga mereka dari terjatuh pada kesalahan dalam menyampaikan risalah. Allah menjaga mereka dari hal-hal yang merusak perilak dan akhlak mereka agar mereka menjadi suri tauladan yang baik hingga manusia di sekitarnya yakin dengan ucapan dan amalan mereka. Juga agar kesalahan-kesalah itu tidak menjadi jalan masuk untuk menyangsikan amanah mereka dalam menyampaikan risalah. Perlu diingat, walaupun demikian para rasul tetaplah manusia yang bisa salah namun kesalahannya tidak terkait dengan tugas penyampaian risalah. Misalnya kesalahan memperkirakan tempat yang sesuai untuk bercocok tanam atau area peperangan, atau kesalahan perkiraan disebabkan semangat dakwah mereka.

Beliau adalah Nabi terakhir yang diutus oleh Allah kepada hamba-hambanya. Namanya adalah Muhammad bin Abdullah bin ‘Abdul Mutthalib Al-Hasyimi Al-Qurasyi. Beliau dilahirkan di Mekkah pada hari Senin pada bulan Rabi’ul Awwal tahun Gajah. Ayahnya meninggal saat ia masih dalam kandungan. Ibunya meninggal saat usiaanya enam tahun. Beliau dirawat oleh kakek beliau yang bernama Abdul Mutthalib. Kakek beliau meninggal saat usia Nabi delapan tahun. Kemudian beliau ditanggung oleh paman beliau yang bernama Abi Thalib. Dahulu Nabi disebut sebagai As-Shadiq Al-Amin. Orang yang jujur dan terpercaya (amanah). Itu karena keagungan akhlak beliau. Allah mengutusnya sebagai rasul pada usia empat puluh tahun. Beliau mengajak kaumnya untuk berislam di kota Makkah selama tiga belas tahun. Setelah semakin kuat gangguan dan rintangan yang dihadapi di Mekkah, beliau pun akhirnya hijrah ke kota Madinah dan bermukim di sana selama sepuluh tahun. Beliau mempersaudarakan kaum Anshar dan Muhajirin. Di kota Madinah, beliau menegakkan syariat dan hukum Allah. Beliau meninggal pada tahun 11 H setelah menyelesaikan tugas menyampaikan risalah.

Bukti kenabian Muhammad sangat banyak. Yang terpenting adalah Alquran Al-Karim. Kitab yang penuh mukjizat ini membuat manusia takjub dari generasi ke generasi disebabkan karena limpahan perbendaharaan dan keindahan isi kandungannya yang mencerahkan akal. Di antara bukti kebenaran Nabi Muhammad ialah sejarah hidup beliau, sifat-sifat beliau yang disebutkan oleh para musuhnya dan pecintanya. Dahulu beliau digelari sebagai As-Shadiq Al-Amin. Yang jujur dan terpercaya. Termasuk di antara bukti kebenaran beliau ialah mukjizat beliau yang disebutkan oleh banyak orang yang hidup sezaman dengannya. Diriwayatkan oleh manusia dari generasi ke generasi. Termasuk pula hal yang menunjukkan kebenaran beliau ialah syariat yang sempurna dan indah, kabar-kabar kedatangannya yang disebutkan oleh kitb-kitab sebelum Alquran, terus menerus tersebarnya agama Islam pada setiap tempat dan zaman, serta kabar yang beliau sampaikan tentang umat-umat terdahulu dan hal-hal yang akan terjadi di masa depan.

Nabi telah diperjalankan di atas Buraq hingga tiba di Baitul Maqdis. Kemudian Nabi diangkat ke langit ditemani oleh Jibril ‘alaihissalam. Allah maha kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada hal di langit dan bumi yang melemahkan-Nya. Pada zaman ini kita bisa menyaksikan bagaimana manusia yang lemah bisa membuat pesawat terbang yang bisa mengalahkan kecepatan suara, mengirim gambar dalam bentuk tiga dimensi yang membuat orang berada di banyak tempat pada satu waktu. Allah maha besar dan maha agung. Kekuasaan dan kemampuan-Nya tidak sebanding dengan makhluk-Nya.

Pengutusan rasul-rasul terkait dengan hikmah yaitu bimbingan dan petunjuk. Ketika kitab-kitab terdahulu terpapar pengurangan serta perubahan sepeninggal para rasul, hikmah yang Allah tetapkan berkonsekueni diutusnya seorang rasul yang membawa kitab yang tidak terpapar pengurangan tersebut. Bahkan Allah sendiri yang menjaganya hingga hari kiamat. Ketika mukjizat Alquran kekal maka sudah pasti Rasul yang membawanya adalah rasul terakhir penutup para Nabi dan rasul.

Itu karena cinta kepada rasul adalah rukun iman. Bahkan keimanan kepada Allah tidak sempurna tanpa rasa cinta tersebut. Allah menggandengakan cinta kepada Allah dengan cinta kepada rasul. Allah juga telah memilih beliau dari sekian banyak manusia untuk mengemban amanah risalah yang agung. Allah telah memilih manusia terbaik dari sisi nasab, akhlak, perkataan, dan perbuatan karena Allah lebih mengetahui siapa yang pantas diberi amanah risalah tersebut. Allah telah memilih beliau dari seluruh manusia untuk tugas besar ini. Oleh sebab itu, sudah menjadi kewajiban bagi kita memilih beliau untuk dicintai lebih dari semua menusia. Itu karena beliau telah menjadikan manusia mengenal siapa Rabb mereka. Beliau adalah sebaik-baiknya rasul bagi umatnya. Nabi yang paling penyayang terhadap rakyat yang dipimpinnya. Tidak ada seseorang setelah Allah yang paling berjasa kepada kita selain beliau. Beliau menahan gangguan dalam perjalaan dakwah kepada agama dan kebaikan. Hatinya pernah terasa sempit ketika orang ia ajak tidak mau beriman. Rasa itu muncul sebagai bentuk kasih sayang dan kasihan kepada mereka dari api neraka. Allah berfirman : “Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Alquran).” (QS. Al-Kahfi : 6) Itulah sebabnya beliau menjadi orang yang paling berhak kita cintai setelah Allah.

Pertanyaan

Terkait Iman Kepada Hari Akhir

Hari di saat Allah membangkitkan semua makhluk untuk di-hisab. Diberi nama hari akhir karena tidak ada hari setelah hari itu. Disebut juga sebagai hari perhitungan karena Allah menghitung apa yang dikerjakan dari amalan-amalan manusia pada kehidupan dunia. Siapa yang mengerjakan kebaikan dan mentaati Allah maka akan masuk surga. Siapa yang mengerjakan kejelekan dan bermaksiat kepada Allah maka akan masuk neraka. Hari akhir adalah hari ketika kehidupan dunia berakhir bagi seluruh manusia. Disebut juga sebagai hari kiamat, maknanya ialah hari manusia bangkit dari kubur mereka menuju ke langit untuk dihisab.

Tiada seorang pun yang mengetahui kapan hari kiamat. Allah berfirman: “(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kebangkitan, kapankah terjadinya. Siapakah kamu (maka) dapat menyebutkan (waktunya). Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya). Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari berbangkit).” (QS. Al-Mursalat : 42-45)
Allah menyembunyikannya dari kita agar kita berusaha dan bersungguh-sungguh dalam beramal agar semakin siap menyambut hari kiamat pada setiap harinya. Persiapan itu berupa mengerjakan amal kebaikan dan meninggalkan keburukan. Jika manusia mengetahu kapan hari akhir itu, maka mereka tidak akan bertaubat kecuali saat sudah dekat masanya. Pasti dunia akan dipenuhi dengan kerusakan lebih dari yang ada.

Yang dimaksud dengan hisab adalah Allah mengumpulkan orang orang terdahulu dan yang terakhir. Allah berfirman :“Katakanlah: "Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang terkemudian. Benar-benar akan dikumpulkan di waktu tertentu pada hari yang dikenal.” (QS. Al-Waqi’ah 49-50)
Kemudian Allah menampakkan amal-amal mereka. Mereka pun mengetahuinya. Lalu Allah membalas mereka sesuai amal-amal tersebut. Siapa yang mengerjakan kebaikan maka pasti ia akan mendapatkannya. Siapa yang mengerjakan kejelekan maka pasti dia akan mendapatkannya. Allah berfirman : “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. AL-Zalzalah : 7-8)

Anak pada usia di bawah enam tahun biasanya tidak bisa mencerna dengan baik makna sempurna dari kematian dan kebangkitan. Ia tidak paham dengan baik bahwasanya mati adalah akhir yang pasti dari setiap manusia tanpa terkecuali. Anak pada usia enam sampai delapan tahun biasanya bisa mencerna makna kematian dan keniscayaannya pada setiap manusia. Anak pada usia delapan sampai sepuluh tahun bisa mencerna dengan sempurna makna kematian dan kebangkitan. Anak mungkin pernah mendapati anggota keluarganya yang meninggal. Itu menjadi saat pertamanya berpapasan dengan kematain dalam hidupnya. Kita tidak mengetahui bagaimana perasaan yang akan muncul pada diri anak ketika mendengarkan kata kematian dan kubur. Kebanyakan mereka merasa takut. Oleh sebab itu, hendaknya kita yang memulai untuk mejelaskan makna kematian kepada mereka tanpa kebohongan. Contoh kebohongan misalnya jika katakan bahwa orang yang mati itu hanyalah sekedar pergi jauh. Dengan cepat anak akan mengetahui hakikat sebenarnya dari orang lain.

Sebaiknya, (sebelum anak mendapati kematian pada anggota keluarga) hendaknya kita meminta dia untuk memperhatikan burung pipit yang mati, atau pohon mati atau serangga mati. Ini akan menjelaskan kepada anak makna kematian dengan menggunakan indranya. Kemudian hendaknya kita jelaskan kepada anak bahwa yang mati itu pergi menuju alam lain dan hidup di sana. Hendaknya kita jelaskan bahwa setiap kita akan mati ketika sudah tua dan akan menyusul semua orang yang mati sebelum kita. Hendaknya kita jelaskan bahwa kita akan hidup bersama dengan mereka di surga dengan izin Allah. Penting untuk diperhatikan agar anak memahami bahwa kematian bukanlah akhir. Kematian hanyalah perpindahan seorang insan beriman menuju kehidupan yang lebih baik atau perpindahan seorang insan keji menuju balasan baginya. Ketika Allah mematikan kita bukan berarti Allah tidak mencintai kita, namun Allah mematikan kita agar kita bisa hidup di dekat-Nya, di dalam surga yang sangat luar biasa, kita tidak mampu mengkhayalkan keindahannya.

Anak-anak tidak melakukan keburukan, mereka juga biasanya tidak sengaja melakukan kesalahan. Oleh sebab itu, Allah menyambut anak-anak yang meninggal dunia dengan rahmat-Nya dan memasukkan mereka ke dalam surga. Ketika manusia wafat dan binasa, ruhnya terus kekal. Ruh itu naik menuju kepada sang pencipta. Namanya baiknya terjaga, amal kebikannya kekal dalam hati manusia. Oleh sebab itu, setiap insan harus bersiap untuk bertemu Rabbnya dengan berbuat baik dan senantiasa komitmen dengan ajaran syariat Islam.

Ketika waktu yang telah ditetapkan Allah untuk kita telah habis, kita akan berpindah menuju kubur. Kubur adalah tempat yang diperuntukkan bagi orang yang telah mati. Kubur menjadi taman dari taman-taman surga bagi orang yang beriman dan taat kepada Allah serta mengerjakan amalan saleh saat hidup di dunia. Orang itu akan mendapatkan nikmat di sana hingga hari kiamat.

Ya, orang yang meniggal itu mendengarkan ucapan salam ketika kita mengucapakan salam kepadanya. Doa pun sampai kepadanya jika kita mendoakan. Namun dia tidak bernafas seperti kita karena dia tidak membutuhkan nafas. Mereka hidup dalam kehidupan yang berbeda dengan kehidupan kita di dunia. Awal kehidupan akhirat adalah barzakh. Ada aturan dan tabiat yang berbeda. Tidak perlu nafas, makan, minum, tidur dan bekerja. Hanya kenikmatan terus menerus atau adzab.

Surga adalah tempat yang penuh kedamian, tempat yang indah. Di dalamnya ada segala hal yang engkau angankan dan sukai. Surga tempat di mana orang-orang saleh yang mengerjakan kebaikan akan pergi ke sana. Surga bertingkat-tingkat dan memiliki delapan pintu. Orang beriman masuk ke sana sesuai kadar kebaikan masing-masing dan rahmat. Orang yang memiliki kebaikan yang banyak akan berada di tempat yang lebih indah dan lebih tinggi dibandingkan orang yang memiliki kebaikan yang sedikit. Namun semua tinggal di dalam keadaan yang lapang, ridha dan penuh kenikmatan. Kita akan bahagia di surga. Kita tidak akan sakit dan lelah. Kita akan melihat Allah dan rasul serta para nabi. Juga semua orang-orang yang kita cintai dengan izin Allah. Di surga terdapat segala sesuatu yang kita sukai dan inginkan berupa makanan, minuman, dan aneka ragam kenikmatan.

Neraka adalah tempat adzab. Tempat yang Allah siapakan untuk menghukum setiap orang yang melakukan keburukan atau mengganggu orang lain serta bermaksiat dan tidak taat pada perintah Allah.

Hewan tidak dibebani syariat. Hewan adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah untuk manusia. Tidak ada hisab dan hukuman bagi mereka. Pada hari kiamat semua hewan akan dibangkitkan kemudian Allah mengadili mereka. Kambing yang bertanduk akan dibalas karena menanduk kambing yang tidak bertanduk. Jika Allah telah mengadili semua hewan, Dia berfirman, “Jadilah tanah!” maka hewan-hewan itu menjadi tanah.

Pertanyaan

Terkait Iman Kepada Takdir

Takdir adalah rukun Iman. Allah berfirman: “... dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (QS. AL-Furqan : 2) Takdir adalah ilmu Allah tentang kadar segala sesuatu sebelum sesuatu itu ada, penulisan, kehendak dan penciptaannya.

Hal ini bisa dijelaskan dengan contoh sederhana sebagai berikut : Pembuat mainan yang bermain dengan mainan buatannya mengetahui apa yang bisa dibuat oleh mainan tersebut sebelum mainan itu melakukannya. Itu karena dia yang membuatnya dan menentukan kegunaan setiap komponen kecil maupun besar yang ada pada mainan tersebut. Orang itu mengetahui kemampuan mainan buatannya dengan sempurna dan menyeluruh. Ia juga mengetahui area yang sesuai untuk mainan tersebutbergerak. Allah, Dia-lah yang menciptakan manusia yang mampu melakukan hal itu. Allah lebih kuasa dan mampu, lebih mengetahui dan lebih sempurna cipta-Nya. Allah mengetahui dan menguasai segala sesuatu yang Dia ciptakan sebelum Dia menciptakannya, saat Dia menciptakannya dan setelah Dia menciptakannya. Allah pula yang mencipatakan insan, zaman, dan tempat. Allah mengetahui apa yang telah terjadi, yang sedang terjadi dan yang akan terjadi.

Manusia harus mengikuti takdir dalam beberapa hal, namun memiliki kebebasan memilih dalam beberapa hal yang lain. Kita tidak memiliki pilihan dalam hal kelahiran dan kematian serta umur. Kita ‘dipaksa’ oleh takdir dalam penentuan orang tua dan kerabat kita. Namun kita diberikan kebebasan memilih untuk mengerjakan salat atau tidak, beriman atau kufur. Walau demikian, keinginan kita berada dalam keinginan Allah. Maknanya bahwa Allah jika menginginkan untuk menahan kita dari memilih maka Allah bisa melakukannya. Jika Allah berkehendak untuk menahan kita meninggalakan sesuatu maka Dia bisa melakukannya. Namun, Allah menetapkan bahwa manusia bisa memilih kemudian akan dimintai pertanggung-jawaban atas apa yang dipilihnya. Inilah makna firman Allah : “Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-Takwir : 29).

Kita juga bisa menjelaskan masalah ini dengan metode praktis seperti contoh berikut:
Seorang guru mengambil sebuah gelas kaca dan bertanya kepada anak, “Apakah kamu bisa membuang gelas ini ke lantai untuk dipecahkan?”
Anak menjawab, “Tentu, saya bisa.”
Guru segera bertanya, “Lalu, apa yang menghalangimu?”
Anak menjawab, “Itu perbuatan keliru, tidak pantas dilakukan.”
Guru menjawab, “Allah mengetahui bahwa kamu tidak akan memecahkan gelas ini karena kamu anak yang baik. Allah juga mengetahui bahwa anak yang nakal akan memecahkan gelas ini. Apakah ada yang menecegahmu melemparkan gelas ini ke lantai? Apakah ada yang memaksa seorang anak nakal memecahkan gelas ini? Demikianlah hidayah dan kesesatan.”
Demikian pula, hendaknya dikatakan kepada anak bahwa manusia tidak mengetahui apa yang telah ditulis oleh Allah dan dia juga tidak dituntut untuk mengetahuinya. Namun ia dituntut untuk meyakini bahwa ilmu Allah mencakup segalanya secara sempurna dan menyeluruh. Ia juga bertanggung jawab atas keingingan dan kadar ketaatan pada perintah dan menjauhi larangan. Ini semua dalam ranah kemampuan dan keinginannya.

Allah memberikan hidayah kepada semua manusia. Allah berfirman: “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (QS. AlBalad : 10)
Hidayah yang dimaksud ialah Allah menerangkan petunjuk yang menjelaskan bagi manusia jalan yang lurus agar kebenaran menjadi jelas dan kebatilan juga menjadi jelas. Allah memberikan kepada manusia kebebasan memilih. Ada yang memilih jalan yang benar dan ada yang memilih jalan yang tidak benar.

Pengetahuan tentang hal itu adalah ilmu ilahi, manusia tidak mengetahuinya. Manusia hanya bisa mengira-ngira bahkan menerka dan berkhayal. Oleh sebab itu,manusia akan dihisab dengan apa yang ia kerjakan pada kehidupan dunia. Seorang hamba tidak memiliki kesempatan untuk mengetahui perkara yang gaib yang telah ditulis oleh Allah sampai ia sendiri yang mengerjakannya dan menyudahinya. Takdir telah tertulis sebagai hujah bagi apa yang telah terjadi bukan untuk sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang.
Bisa kita katakan kepada anak, “Allah telah menuliskan bagimu perkara-perkara duniawi. Mengapa kamu mengerjakan hal yang bermanfaat dan meninggalkan hal yang berbahaya?”
Bisa pula kita sebutkan contoh untuknya sebagai berikut, “Jika ada seseorang yang ingin safar ke suatu negeri dan untuk menuju ke negeri tersebut ada dua jalan. Jalan yang pertama aman sedangkan jalan yang kedua tidak aman. Jalan manakah yang akan dia pilih? Demikian pula jalan menuju negeri akhirat. Seseorang memilih jalan aman yang mengantarkan ia menuju surga dengan mengerajakan semua perintah dan menjauhi semua larangan.” Jika saja takdir dijadikan sebagai alasan bagi semua orang, maka kita tidak bisa menangkap para penjahat karena mereka akan beralasan bahwa perbuatan mereka sudah ditakdirkan. Oleh sebab itu, wajib atas manusia untuk ridha dan menyerahkan takdirnya kepada Allah subhanahu wa taala.
“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.” (QS. Al-Anbiya : 23).
Makhluk adalah ciptaan Allah sedang perintah adalah perintah Allah.

Allah berfirman : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Ad-Dzariyat : 56)
Allah telah menciptakan kita dengan tujuan yang bermanfaat bagi kita. Tujuan itu ialah ibadah kepada Allah. Allah jadikan hasilnya di akhirat sesuai dengna amal. Surga diperuntukkan bagi orang yang berbuat baik, sedang neraka diperuntukkan bagi orang yang berbuat buruk. Alam semesta ini semuanya adalah makhluk Allah, diciptakan dengan ilmu dan ketelitian. Allah menciptakan langit dan bumi serta mnyebarkan planet-planet. Allah menciptakan bintang-bintang sebagai tanda dan hiasan langit. Allah ciptakan matahari untuk memberikan kita kehangatan dan panas, juga untuk menumbuhkan tanaman dan membasmi bakteri. Allah menciptakan hewan agar dijinakkan bagi manusia guna dimakan atau dijadikan tunggangan. Allah berfirman :“Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.” (QS. An-Nahl : 8)
Allah menyiapkan bumi sebagai tempat tinggal dan menciptakan semua hal sebelum menciptakan manusia. Hal ini guna memuliakan insan secara khusus. Ditambah lagi bahwa semua makhluk itu bertasbih kepada Allah dan memuji-Nya. Sejatinya semua makhluk yang diciptakan-Nya adalah hamba yng beribadah kepada-Nya. Allah berfirman :“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra : 44)

Mereka akan ditanyai dan dihisab karena Allah telah memberikan kepada mereka akal. Allah akan menguji mereka pada hari kiamat dan akan memerintah mereka. Jika mereka tunduk dan patuh maka mereka akan masuk surga, jika mereka tidak patuh maka mereka akan masuk neraka.

Dunia ini adalah tempat bala dan ujian. Dunia seperti penggalan pertama dari kisah yang memiliki dua bagian. Akhirat adalah tempat pembalasan dan perhitungan, pengadilan bagi hak-hak orang yang dizalimi. Akhirat ibarat bagian kedua dari kisah tersebut. Oleh sebab itu, adanya keburukan yang tidak langsung dibalas di dunia adalah bentuk ujian. Bukan berarti urusannya selesai sampai di situ, namun kelak akan ada hari dimana semua dibangkitkan untuk menerima balasan-balasan amal mereka. Allah berfirman : “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al-Zalzalah : 7-8)..
Termasuk di antara ujian adanya keburukan pada tangan-tangan setan dan orang-orang sesat dari kalangan bani Adam.

Allah menguji mereka dengan kekurangan dan penyakit agar mereka bersabar dan menambah kebaikan. Dengan demikian Allah juga mengingatkan kita dengan nikmat yang diberikannya kepada kita ketika menciptakan kebanyakan kita sehat wal afiyat. Dengannya kita bersyukur kepada Allah. Allah juga mengingatkan kepada kita bahwa kita begitu lemah di hadapan kekuasaan Allah. Olehnya tidak pantas manusia tertipu dan merasa kuat, bahkan hendaknya kita bersikap rendah hati dan saling tolong-menolong. Setelah hari perhitungan kelak, orang yang mengerjakan amal kebaikan akan hidup abadi, sehat dan bugar di surga yang penuh kenikmatan. Insyaallah.

Semua Rezeki di kehidupan dunia ini adalah dari Allah. Allah menguji hamba-hamban-Nya. Terkadang Allah memberi orang baik rezeki agar Dia mengujinya, apakah ia akan memberi orang lain? Terkadang Allah tidak memberinya rezeki untuk mengujinya apakah ia mampu bersabar untuk tidak mencuri atau merasa iri hati. Selama orang baik hidup bersabar di dunia yang sementara ini, maka pahala yang akan ia terima semakin besar pada hari perhitungan kelak. Adapun orang yang banyak rezeki namun tidak memberi orang lain bahkan berbuat buruk kepada mereka, maka Allah mengadzabnya pada hari kiamat. Itu karena ia tidak menghargai nikmat Allah.

Allah menciptakan manusia dengan tingkatan yang berbeda-beda. Ada yang kaya dan ada yang miskin agar orang kaya merasa iba kepada orang miskin, yang kuat membantu yang lemah dan seterusnya. Hikmah Allah berkonsekuensi adanya perbedaan derajat manusia dalam segala hal. Bahasa dan warna kulit manusia berbeda-beda. Manusia juga memiliki watak dan tabiat yang beraneka ragam. Ada yang rajin dan ada yang malas. Ada yang berpengaruh dan ada yang egois. Ada yang dermawan dan ada yang kikir. Mereka berbeda dari sisi harta dan materi. Ada yang kaya dan ada yang miskin. Semuanya berada dalam ujian. Orang kaya diuji dan orang miskin pun diuji. Orang kaya diuji, apakah akan berinfak? Apakan akan berzakat? Apakah akan menderma? Apakah akan bersedekah?
Orang miskin diiuji, apakah ia akan sabar? Apakah ia akan tabah? Apakah ia akan berusaha? Apakah ia akan korupsi? Apakah ia akan mencuri? Semua adalah ujian namun ada jaminan bagi keduanya, yaitu rezeki adalah tanggungan Allah. Kaya dan miskin tidak menjadi penghalang untuk masuk ke dalam surga atu neraka. Semua orang dibebani syariat sesuai apa yang ia miliki. Jika semua orang berada dalam satu tingkat kekayaan maka tidak ada orang yang melayani orang lain. Manusia tidak akan saling membutuhkan. Allah berfirman : “Agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain.” (QS. AL-Zukhruf : 32).
Agar mereka dapat mengambil manfaat sebagian yang lain, dengan itu roda kehidupan berputar. Jika semua manusia dalam satu tingkatan maka kehidupan akan berhenti.

Allah menguji setiap insan. Apakah ia akan bersabar atau akan kesal jika diberi penyakit? Allah membalas orang yang bersabar dengan balasan yang besar. Orang beriman akan senang dengan balasan itu pada hari kiamat. Penyakit dan musibah adalah bagian dari takdir yang telah Allah tetapkan guna mengangkat derajat dan membersihkan hati dan akhlak dari penyakit ghurur, ujub, dan sombong. Dengan adanya musibah seorang mukmin mendekat kepada Allah degan doa dan kesbaran. Maka bertambahlah keimanan dan amal kebaikannya serta cintanya kepada Allah. Juga agar seorang insan mengetahui betapa bernilainya nikmat kesehatan.
Kita bisa juga membuat permisalan dengan sebuah mobil. Kita tanyakan kepada anak, “Mengapa mobil dibuat? Untuk dijalankan bukan? Lalu, Untuk apa pabrik mobil ini menambahkan rem pada mobil? Bukannya ini bertentangan dengan tujuan dibuatnya mobil? Penggunaan rem adalah kebutuhan keselamatan mobil tersebut. Mobil dibuat untuk berjalan dan melaju. Rem menjadikan mobil berhenti pada saat yang tepat agar tidak membahayakan pengendaranya. Demikianlah, Allah menciptakan kita untuk menjadikan kita bahagia dengan ibadah dan kenikmatan-Nya untuk kita. Allah juga menciptakan musibah agar mengingatkan manusia yang lalai dari tugas besar dan utama yang menjadi tujuan penciptaan itu sendiri. Dengan adanya musibah, manusia berhenti lalai dan kembali ingat kepada Allah lalu meminta ampunan-Nya serta bersabar dan mengharapkan pahala.

Allah menciptakan segala sesuatu. Dia-lah Rabb segala sesuatunya. Allah menciptakan hewan dan serangga pengganggu dengan takdir-Nya dan hikmah-Nya karea Allah maha mengetahui dan maha bijaksana. Kita hanya mengetahui sedikit dari pengetahuan tentang hewan dan serangga tersebut. Itu karena ilmu kita sangat sempit jika dibandingkan dengan ilmu dan hikmah Allah. Allah berfirman :“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." (QS. Al-Isra : 85)

Kita tidak tahu semua hikmah dibalik penciptaan semua hewan-hewan tersebut. Di antara hikmah dari penciptaannya adalah Allah menampakkan kesempurnaan ciptaan-Nya pada makhluk dan tatanan-Nya bagi makhluknya. Walupun jumlahnya begitu banyak, namun Allah menjamin semua rezeki makhluk-makhluk tersebut. Allah juga menguji para hamba dengan hewan-hewan tersebut dan memberi pahala bagi orang yang diganggunya. Juga untuk memperlihatkan keberanian orang yang membunuh hewan-hewan berbahaya tersebut. Allah tampakkan betapa lemahnya manusia ketika kesakitan disebabkan karena hewan atau serangga tersebut. Padahal hewan-hewan ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan manusia. Berdasarkan sudut pandang kedokteran dan eksperimen, ditemukan bahwa obat-obatan yang ampuh diambil dari bisa ular dan sejenisnya. Ular juga biasa memakan tikus hama yang merusak hasil perkebunan. Kebanykan hewan-hewan berbahaya ini juga menjadi makanan bagi hewan-hewan yang lain yang banyak manfaatnya. Ini terjadi guna menjaga keseimbangan rantai ekosistem yang ada pada lingkungan kita yang telah disempurnakan oleh Allah.

Ibadah yang diwajibkan oleh Allah kepada kita adalah sebuah kesempatan untuk mensucikan diri bagi seorang mukmin dan meninggikan ruhnya. Betapa sedikit yang kita usahakan dibandingkan dengan phala dan kebaikan yang ada dibaliknya. Salat terdiri dari bacaan, zikir dan doa. Salat menggabungkan bagian-bagian penghambaan dalam bentuk yang paling sempurna. Oleh karenanya ibadah salat itu afdal dibandingkan sekedar membaca Alquran, zikir atau doa saja. Apalagi semua itu tergabung di dalam salat bersama dengan ibadah gerakan anggota tubuh.

Orang-orang yang beriman merasa bahagia saat mengerjakan salat karena mereka bersama dengan Allah di dalam salat tersebut. Mereka meminta semua hal yang mereka angankan lalu Allah menjawabnya. Kita mengerjakan salat karena Allah memerintahkan itu kepada kita. Kita senang mengerjakan apa yang Allah perintahkan. Kita menyembah Allah karena Dia menciptakan dan memberi rezeki kepada kita. Olehnya Allah yang paling berhak untuk disembah karena semua yang Dia berikan kepada kita. Kita tidak mampu menghitungnya. Allah berfirman :“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl : 18)

Ibadah ini ibarat ungkapan cinta dan syukur kita kepada Allah serta sebagai bentuk pengakuan akan kebutuhan kita kepada-Nya. Agar Dia menjaga kesehatan dan keselamatan kita, serta memberi taufik untuk mengerjakan kebaikan dan menjauhkan kita dari keburukan. Allah tidak butuh ibadah kita karena Dia maha kaya dan tidak membutuhkan kita dan amalan yang kita kerjakan. Allah tidak mendapat manfaat sedikit pun dari amalan kita. Ibadah adalah perintah yang ditujukan kepada kita, sedang Dia menginginkan kita menyembahnya dengan cara yang diajarkan oleh Nabi Muhammad. Inilah makna dari dua kalimat syahadat. Kita menyembah Allah dengan cara yang diajarkan oleh Rasulullah. Ibadah ini adalah jalan bagi kita untuk mendulang pahala besar yang akan menjadi sebab masuk ke dalam surga. Allah telah menetapkan dengan hikmah-Nya bahwa seeorang tidak akan mendapatkan pahala kecuali dengan amalnya. Oleh sebab itu, surga adalah barang dagangan Allah yang begitu mahal. Butuh harga yang tinggi dan bernilai untuk mendapatkannya. Harganya adalah ketaatan.

Ada adab-adab dalam berdoa yang harus diperhatikan. Di antara adabadab tersebut adalah orang yang berdoa hendaknya menghormati kaidah-kaidah dan aturan-aturan yang ditetapkan oleh Allah dalam pergerakan alam semesta ini. Kita memohon kepada Allah, sedangkan Allah melakukan yang terbaik yang Allah pilih bagi kita. Mungkin saja kamu meminta izin pada ayahmu untuk bermain sepeda di jalan raya. Ayahmu pasti tidak mengizinkannya karena dia menyayangimu dan memandang bahwa lebih baik tidak membolehkan apa yang kamu inginkan.

Di antara pemuliaan Allah kepada kita, doa yang kita panjatkan itu direspon menjadi tiga keadaan.

  • Allah menjawabnya dan merealisasikannya.
  • Doa itu menjadi penyebab diangkatnya musibah yang akan terjadi pad diri kita.
  • Allah menyimpannya untuk kita pada hari kiamat agar dijadikan sesuatu yang lebih baik di surga.

Itu karena Allah menciptakan segala sesuatu dengan bentuk yang unik. Semua ciptaan Allah itu baik. Allah berfirman : “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. AtTiin : 4) Setiap orang itu memiliki keunikan sesuai dengan cara penciptaan-Nya yang unik. Orang yang diciptakan sangat cantik atau tampan wajib lebih banyak bersyukur. Orang yang yang tidak seperti itu maka wajib baginya ridha dan menerima keadaannya. Siapa yang bersyukur dan yang bersabar maka akan mendapatkan derajat dan pahala yang berlimpah ruah.

Allah menguji kita untuk membedakan antara orang yang berbuat baik dan orang yang berbuat jelek. Allah mungkin menguji seseorang agar ia kembali dan mengadu kepada Allah. Dengannya ia menjadi senantiasa dekat dengan Allah. Allah menguji orang-orang yang dicintai-Nya agar membersihkan dan mengangkat derajat mereka. Juga agar mereka menjadi suri tauladan bagi yang lain. Hingga orang lain juga bisa bersabar dan mencontoh mereka. Nabi pernah bersabda bahwa orang yang paling berat ujiannya adalah para Nabi kemudian orang yang seperti mereka kemudian orang yang seprti mereka. Seseorang diuji berdasarkan kadar agamanya. Jika kuat maka ujian pun akan semakin kuat. Itulah sebabnya Allah menguji para Nabi dengan ujian yang besar. Di antara mereka ada yang dibunuh, diganggu, sakit parah begitu lama sperti Ayyub ‘alaihissalam. Nabi Muhammad diganggu di kota Mekkah dan Madinah. Walau demikian beliau bersabar. Intinya, ujian dan kesulitan menimpa orang yang beriman dan bertakwa sesuai tingkat keimanan dan ketakwaannya.
Hendaknya ditanamkan dalam benak anak bahwa Allah melakukan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia inginkan. Allah tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya karena Dia yang maha bijaksana.