Gerbang Jawaban...

Sang Maha Pencipta telah menanamkan fitrah pada diri anak untuk gemar bertanya agar menguatkan akal dengan konsep-konsep dan informasi sebanyak mungkin. Maasa anak-anak dianggap sebagai masa ingin tahu. Kebanyakan kata-kata yang keluar dari anak-anak pada masa ini adalah pertanyaan. Anak-anak merasa bahwa mereka tidak mengerti banyak hal yang ada di sekitar mereka Sebagaimana yang kita ketahui bahwasanya ketidaktahuan mampu melahirkan rasa takut. Olehnya, anak tergerak dengan sangat kuat untuk mempelajari segala hal yang mereka hadapi. Itu sebabnya kita mendapati seorang anak pada usia tiga tahun melontarkan puluhan pertanyaan setiap harinya kepada kedua orang tua dan saudaranya yang lebih tua. Sudah pasti bahwa jawaban-jawaban yang mereka berikan akan memberikan dampak bagi diri sang anak. Jawaban-jawaban itu juga bisa menjadikan anak berpindah dari satu hal kepada hal yang lain. Itu ditunjukkan oleh perubahan pertanyaan dan tema yang menjadi pusat pertanyaan anak yang terus-menerus. Kita biasa mendengarkan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: Seperti apa? Di mana letaknya? Bagaimana jadinya? Dari mana asalnya? Apa itu? Apakah kamu tahu? Dll...

Anak menginginkan pengetahuan tentang segala sesuatu yang menarik perhatiannya. Ia ingin memahami segala sesuatu yang ia lihat dan ia dengar. Jawaban yang ia dapat bisa jadi ia pahami dan bisa jadi di sebaliknya. Bisa jadi dia bisa memberikan waktu yang cukup untuk mendengarkan jawaban dan bisa juga sebaliknya.
Seorang anak itu memiliki keunggulan berupa rasa ingin tahu yang cukup tinggi. Hal tersebut bisa bertambah sesuai dengan lingkungan tempat tinggalnya dan kesempatan yang diberikan padanya. Oleh sebab itu kita akan kaget apabila kita bandingkan antara pertanyaan-pertanyaan kita pada saat kita masih kecil dengan pertanyaan-pertanyaan mereka saat ini. Hal itu karena perbedaan waktu, tempat, dan wawasan. Oleh sebab itu sudah tidak diragukan lagi bahwa cara cara mendidik yang di gunakan oleh seorang pendidik akan memberikan dampak yang sangat jelas pada keluasan area pertanyaan anak dan kedalamannya. Seorang pendidik yang membukakan kesempatan dan menerima pertanyaan dengan senang hati akan masuk ke dalam jiwa anak. Adapun seorang pendidik yang tidak tahan dengan pertanyaan-pertanyaan anak dan menolaknya serta menanggapinya dengan teriakan atau hardikan maka ia tidak akan mendapatkan hati sang anak dari apa yang ia tanyakan. Kita sepakat bahwa bukan hal yang baik apabila seorang anak kecil mengetahui segala sesuatunya akan tetapi hal yang tidak kalah pentingnya adalah hendaknya jangan sampai anak merasa takut untuk bertanya tentang beberapa hal yang akan berdampak pada kehidupan mereka. Termasuk hal yang cukup penting hendaknya anak tidak merasakan bahwa mereka dianggap tidak ada atau tidak dipercaya. Lebih penting dari itu semua, hendaknya anak merasakan kenyamanan ketika mereka berbicara dengan anggota keluarganya.

Sebab-Sebab Banyaknya

Pertanyaan Pada Anak-Anak

  • Rasa ingin tahu anak dan keinginan untuk bereksplorasi sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan akalnya.
  • Kebutuhan anak untuk memahami segala yang ada di sekitarnya baik berupa benda-benda maupun fenomena yang ada.
  • Kekhawatiran anak dan rasa takut dari sesuatu. Itu karena anak tidak memiliki pengalaman berinteraksi dengan hal tersebut. Sebagai contoh, anak takut dengan hewan walaupun hewan tersebut tidak menyerangnya. Oleh sebab itu muncul banyak pertanyaan dari dirinya agar ia merasa aman.
  • Perkembangan kemampuan berbahasa anak. Ketika anak menanyakan satu pertanyaan lalu kemudian disusul dengan pertanyaan berikutnya, ini menunjukkan bahwasanya anak sedang menyukai bahasa dan menggemarinya serta bangga dengan kemampuannya. hal ini juga menunjukkan adanya kebutuha dalam dirinya untuk berinteraksi sosial.
  • Adanya kesempatan untuk berinteraksi dan berkomunikasi antar orang tua dan anak.
  • Menumbuhkan rasa percaya diri dalam anak juga keyakinan kepada kedua orangtuanya serta sikap menghargai diri sendiri.
Karakteristik

Pertanyaan Anak

Agar kita memahami pertanyaan anak dengan benar, hendaknya kita membedakan antara pertanyaan-pertanyaan terkait logika, bahasa, dan pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut psikologi. Pada jenis pertanyaan yang pertama anak berusaha untuk mengetahui segala sesuatu atau mengabarkan tentang suatu hal. Adapun jenis yang kedua faktor pendorongnya adalah ketentraman dan kenyamanan jiwanya. Dalam hal ini jawaban dari orang tua bukanlah hal yang benar-benar diinginkan. Pada kondisi ini hendaknya kita mengetahui sebuah prinsip dasar, yaitu: pertanyaan-pertanyaan itu mengandung isyarat-isyarat yang menunjukkan sikap anak dengan jelas. Olehnya, kita tidak mampu menakar nilai sebuah pertanyaan, memahaminya, dan menetapkan maknanya kecuali melalui kejadian tertentu yang menyebabkan anak bertanya. Bukan pertanyaannya yang memiliki nilai akan tetapi nilainya diambil dari isyarat dan urgensi yang terdapat pada kejadian atau keadaan yang yang meliputi pertanyaan tersebut. Tiga jenis pertanyaan di atas memiliki peran yang penting yaitu:

  • Merealisasikan keseimbangan jiwa pada diri anak. Dengannya akan banyak pertanyaan anak yang bernuansa psikologi.
  • Berfikir deduktif. Anak berusaha untuk mencapai pengetahuan baru dengan bersandar pada informasi yang tersedia pada dirinya hingga ia mampu membangun informasi baru atau mengaitkannya dengan informasi yang ada.
  • Mengenal lingkungan yang ada disekitarnya dan urusan-urusan kehidupan yang penting. Di antaranya adalah mengenal nilai-nilai dan perilaku-perilaku yang terdapat pada masyarakat dan adat istiadat sekitarnya.
Jenis-Jenis

Pertanyaan Anak

Sebaiknya kita mengklasifikasikan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh anak. Itu karena setiap pertanyaan membutuhkan jawaban yang berbeda sesuai dengan klasifikasinya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa dibagi menjadi beberapa kelompok sebagai berikut:

  • Pertanyaan Linguistik. Misalnya: Mengapa benda ini diberi nama demikian? Mengapa kita tidak mengganti namanya? Kenapa tidak kita membuat bahasa yang baru?
  • Pertanyaan Eksistensial. Termasuk didalamnya pertanyaan darimana kita berasal? Ke mana kita akan pergi? Dari mana datangnya anak? Apa yang dimaksud dengan kematian? Bagaimana tentang semesta alam ini? dan lain sebagainya.
  • Pertanyaan untuk menentang. Pertanyaan ini berkisar pada pemikiran yang ada dalam benak anak seperti : Kenapa ada hal-hal yang tidak dibolehkan bagi anak akan tetapi dibolehkan bagi orang dewasa? dan pertanyaan ini muncul dalam bentuk usaha meniru orang yang lebih dewasa.
  • Pertanyaan Menguji. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh anak untuk menguji kemampuan anggota keluarga dan mengkritisi apa yang dianggap lemah dari anggota keluarga yan lain. Kebanyakannya pertanyaan ini muncul ketika anak membandingkan keluarganya dengan keluarga kawan-kawannya. Biasanya pertanyaan-pertanyaan ini berkisar tentang kemampuan finansial keluarga dan kemampuan fisik.
  • Pertanyaan kecemasan anak. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh anak-anak kebanyakannya mencerminkan rasa cemas yang tumbuh dalam diri mereka. Pertanyaan yang sering ditanyakan biasanya tetang ketiadaan salah satu orang tua atau ketika ia mendapati salah satu dari orang tuanya meninggalkan yang lain.
  • Pertanyaan tentang anggota tubuh. salah satu di antara pertanyaan yang berkaitan dengan hal ini ialah pertanyaan terkait perbedaan antara laki-laki dan wanita.

Kasifikasi (pengelompokkan) ini dapat membantu anggota keluarga untuk memahami latar belakang pertanyaan yang yang ditanyakan oleh anak. anak tidak serta-merta bertanya akan tetapi ada faktor keingintahuan.

Mengapa Kedua Orang Tua Mengabaikan Pertanyaan Anak?

Terkadang mengabaikan pertanyaan anak bukan disebabkan karena ketidaktahuan untuk menjawab pertanyaan tersebut atau menganggap pertanyaan tersebut tidak penting atau ketidaktahuan akan peran dari pertanyaan-pertanyaan tersebut pada pendidikan dan kejiwaan anak. Akan tetapi ada sebab-sebab lain yang menjadikan orang tua tidak memperhatikan pertanyaan-pertanyaan anak. Di antara sebab terpenting ialah sebagai berikut:

  • Tanggapan orang dewasa bahwa pertanyaan anak adalah pertanyaan yang aneh, remeh atau tidak bermutu. Ini menjadikan orang tua tidak memahami dan tidak memperhatikan pertanyaan anak. Akibatnya orang dewasa melalaikan hak anak-anak. Anak-anak memiliki cara berpikir yang khusus dengan ciri sederhana dan gamblang. Kelalaian ini menggambarkan kuasa logis yang yang dipegang kuat oleh orang dewasa dengan menyampingkan bahwa anak menanyakan pertanyaannya yang sederhana disebabkan keingin-tahuanny atau hanya untuk mengeksplorasi alam sekitarnya. Apalagi untuk tujuan psikis yang yang sangat ia butuhkan dibalik pertanyaannya tersebut, yaitu mengurangi keseimbangan jiwa yang telah hilang dari satu kejadian tertentu.
  • Pengetahuan orang dewasa bahwa betapa sulitnya pertanyaan yang disampaikan oleh anak. Ketika pertanyaan berhubungan dengan satu sisi yang tabu dari sudut pandang sosial atau nilai-nilai yang berlaku pada masyarakat tertentu, tidak dibenarkan untuk menanyakannya kecuali pada umur tertentu. Kesulitan menjawab pertanyaan sensitif anak yang menjadikan orang dewasa merasa bimbang. Oleh sebab, itu sudah sebaiknya bagi orang dewasa untuk menyiapkan diri mereka dengan baik agar bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan sebaik-baiknya..
  • Banyaknya pertanyaan anak yang dilontarkan secara terus menerus terkadang menjadi sebab lain dari pengabaian orang dewasa terhadap pertanyaan-pertanyaan mereka. Apabila orang dewasa mengetahui betapa pentingnya pertanyaan anak dari sisi psikologi tentu mereka akan bersikap berbeda. Mereka akan memberi semangat agar anak senantiasa bertanya kepada mereka seakan-akan mereka berpikir dengan suara yang dapat didengar.
  • Termasuk di antara sebab-sebab yang menyebabkan orang dewasa tidak memberikan perhatian yang dibutuhkan terhadap pertanyaan-pertanyaan anak adalah sebagian dari pertanyaan-pertanyaan tersebut diungkapkan secara tidak langsung dan bukan diucapkan secara langsung.
  • Bisa jadi sikap menghindari pertanyaan-pertanyaan anak disebabkan karena ketidaktahuan orang tua terkait informasi apa yang diinginkan anak. Orang tua harus berusaha mencari tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan anak dan memberitahu mereka dengan amanah dan jujur.
  • Pertanyaan-pertanyaan anak yang melampau kemampuan akal mereka membutuhkan jawaban yang cukup sulit dan kompleks. Kedua orangtua mungkin bingung bagaimana caranya anak bisa sampai pada pertanyaan tersebut hingga mereka lalai dari menjawab pertanyaan tersebut.
Bagaimana Cara Berinteraksi Dengan Pertanyaan-Pertanyaan Anak?

Kewajiban kedua orang tua adalah memberikan jawaban yang benar terhadap pertanyaan-pertanyaan anak. Sebagaimana sudah menjadi kewajiban mereka mempersiapkan cara-cara untuk mendiskusikan dan membicarakan tentang pertanyaan-pertanyaan anak mereka terkait permasalahan keimanan. Juga hendaknya kedua orang tua membantu anak menyampaikan pikirannya terkait agamanya guna menumbuhkan pada dirinya ketenangan dan pemahaman yang benar terhadap agama. Pemahaman yang benar terhadap agama akan menjaga keseimbangan diri dalam beragama yang jauh dari sifat lalai atau berlebih-lebihan.

Orang tua tidak harus mengetahui seluruh jawaban yang benar dari pertanyaan anak terkait agama, akan tetapi wajib bagi kedua orang tua untuk menjelaskan rukun-rukun iman kepada anaknya hingga mereka tumbuh di atas keimanan yang kuat kepada Allah.

Termasuk hal yang baik adalah ketika kedua orang tua menugaskan kepada anak mereka yang paling besar bentuk menuliskan pertanyaan-pertanyaan anak. Kebanyakannya anak yang paling tua mau menerima tugas tersebut apalagi jika ia merasakan adanya perhatian dan motivasi dari kedua orang tuanya. Selain itu, ia juga bisa mendapatkan kegembiraan dari hal tersebut. Pada sisi yang lain kita bisa menumbuhkan betapa berharganya makna dari sebuah pertanyaan pada diri anak-anak yang paling tua. Mereka juga akan merasa bahwa mereka dihargai. Kita juga dapat menumbuhkan pada ada diri mereka kesadaran akan perhatian terhadap pertanyaan anak-anak mereka di masa yang akan datang ketika mereka telah menjadi orang tua.

Pada sisi yang lain juga, kita akan mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan dan mempersiapkan jawabannya. Ini juga dapat membantu kita untuk menerka pertanyaan adik-adik mereka kelak. Betapa senangnya seorang anak ketika kita mampu segera menjawab pertanyaannya karena telah dipersiapkan sebelumnya. Memberikan perhatian untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan anak akan memberikan dampak yang besar kepada diri anak dan ikatan hati dengannya, insyaallah. Hal ini akan menjadikan kedua orang tua sebagai sumber pengetahuan pertama bagi anak yang ia yakini pada tahun-tahun yang akan datang sebagai ganti dari sumber-sumber pengetahuan yang terkotori terutama pada masa-masa remaja nantinya.

Ada hal penting yang hendaknya diperhatikan oleh kedua orang tua yaitu pentingnya membedakan antara dua jenis pertanyaan anak. Pertama: pertanyaan yang bersifat mendesak yang mana kita merasakan bahwa anak senantiasa mengulang-ulanginya, menanyakannya kepada ada lebih daripada satu anggota keluarganya atau pertanyaannya bisa melahirkan pertanyaan-pertanyaan yang lain. Kedua : pertanyaan yang tiba-tiba muncul. Apabila kita coba mengalihkan pembicaraan maka dia akan melupakan pertanyaannya itu. Jenis pertama tidak baik untuk diabaikan, maka hendaknya sebagai orangtua kita berusaha untuk menjawabnya, mencari jawabannya atau mencari orang yang mampu untuk menjawab dengan baik. Dalam hal ini, ada pendidikan jangka panjang yang begitu penting. Adapun pertanyaan-pertanyaan yang muncul tiba-tiba maka tidak apa apa-apa apa bila diabaikan apalagi bila berkaitan dengan urusan yang tidak bisa dipahami oleh anak ketika kita menjawabnya.

Prinsip-Prinsip Berinteraksi

Dengan Pertanyaan Anak

Ada beberapa prinsip dan nilai yang hendaknya senantiasa dipegang oleh kedua orang tua dan diperhatikan ketika menjawab pertanyaan anak, di antaranya:

  • Prinsip Penghormatan Kedua orang tua yang mendengarkan pertanyaan anak akan menjadikan ia merasa bahwa keduanya ikut merasakan kegundahan yang ia rasakan. Ia pun merasakan bahwa kedua orang tuanya menghormatinya. Hal ini mampu mengembalikan keseimbangan psikis dan ketenangan anak. Juga dapat dengan cepat meningkatkan rasa percaya diri anak, menjadikan pertanyaan yang di diucapkan lebih detil, dan menjadikan anak mampu berbicara secara teratur dan logis.
  • Prinsip Kepercayaan dan Keamanan Hendaknya kedua orang tua menjawab dengan teliti. Jawaban yang diberikan hendaknya memperhatikan pilihan kata yang sesuai untuk anak. Informasi yang diberikan disederhanakan sesuai dengan ranah ilmu yang benar. Jawaban yang benar pada akhirnya akan merealisasikan ketenangan dan kepercayaan serta rasa keamanan jiwa.
  • Prinsip Penanganan Faktor Khusus pada Anak Yang dimaksud adalah faktor-faktor yang muncul dalam kejadian-kejadian yang dirasakan oleh anak, contohnya seorang anak yang merasa khawatir dan terusik karena adanya adik baru dalam keluarganya. Ia akan bertanya, “Dari mana datangnya bayi? Tidak mungkin pertanyaan yang ada di benak anak ini diselesaikan dengan sekedar menjawab secara ilmiah. Ada faktor utama yang menyebabkan pertanyaan ini diutarakan maka hendaknya diselesaikan dan diberi perhatian khusus.

Hal yang paling baik yang diberikan oleh orang dewasa kepada anakanak adalah membantu mereka untuk mencurahkan akal mereka. Tidak sekedar dengan kisah-kisah, cerita, pengetahuan-pengetahuan yang benar semata, akan tetapi melalui pelatihan perenungan, mengajak mereka untuk memberikan usulan, membiasakan mereka untuk tidak mencukupkan diri dengan hal-hal yang nampak saja, serta mengajak mereka untuk berpikir apa yang ada di balik hal yang nampak di hadapan mereka. Hendaknya juga ada interaksi yang positif, diskusi yang membangun, juga dialog yang memiliki tujuan, serta tukar pikiran. Orang tua sebaiknya bisa menggerakkan pemikiran anak.

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dimanfaatkan dalam bentuk yang lebih luas. Orang tua bisa meminta anak untuk menanyakan pertanyaannya ketika keluarga berkumpul. Lalu biarkan semua orang menjawab hingga pertanyaan tersebut menjadi pertanyaan yang biasa dan tidak sensitif bagi anak. Akan tetapi, penting sekali untuk tidak membiarkan anak yang lebih tua mengolok-oloknya karena pertanyaannya yang begitu sederhana. Apabila itu terjadi, maka hendaknya orang tua bisa membela anaknya dengan memujinya atas keberaniannya dan menjelaskan bahwasanya memang sudah kebutuhan manusia untuk menanyakan pertanyaan. Hendaknya orang tua juga mengingatkan dengan firman Allah subhanahu wa taala: “...dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." (QS. Al-Isra: 85). Dengan menjawab bersama-sama kita dapat merealisasikan banyak tujuan.

Mendidik

Dengan Diskusi

Metode yang baik dan sesuai untuk anak-anak adalah metode diskusi dan tanya dan jawab. Itu karena metode ini dapat membantu anak untuk semakin lancar berbicara dan menghasilkan wawasan sebagaimana bisa diperoleh dari pengajaran. Diskusi akan menguatkan kemampuan anak. Pastikan anak merasakan dihargai saat berdiskusi. Diskusi dapat membebaskan anak dari rasa takut, gugup dan lain-lain. Apabila anak merasakan ketenangan diri ketika berdiskusi maka anak akan mengeluarkan semua unek-unek yang ada di dalam dirinya. Apabila kedua pihak dalam diskusi bisa mencapai sebab-sebab masalah dan mengutarakannya dengan gamblang maka solusi akan menjadi mudah diraih.

Diskusi antara anak dan orang tua akan memberikan dampak positif pada keluarga secara umum. Di antara dampak tersebut ialah rasa saling mengenal. Anak akan menjadi lebih dekat dengan anggota keluarga yang lain. Dampak yang lain ialah keakraban. Diskusi akan menambah keakraban antar-anggota keluarga dan menghadirkan kasih sayang serta kedekatan antara mereka. Dampak lainnya ialah munculnya rasa saling simpati. Kita tidak menginginkan dikusi formal. Makna hakiki dari diskusi terpadat pada ucapan yang lembut dan suasana yang penuh keakraban.

Berdasarkan apa yang telah dijelaskan, kita akan mendapati bahwasanya pendidikan dengan diskusi adalah proses yang unggul disebabkan halhal berikut:

  • Diskusi memberikan kepada anak kebebasan untuk berpikir dan bereksplorasi mencari hakikat dirinya sendiri. Dalam hal ini ini terdapat dorongan untuk berinovasi dan mengembangkan kepribadiannya.
  • Diskusi biasanya mengalir sederhana dan tidak dibuat-buat. Anak akan berinteraksi dengan diskusi yang kita berikan dengan nyaman tanpa merasa malu.
  • Diskusi memasukkan rasa bahagia pada diri anak dan percaya diri. Diskusi juga mengajarkan anak untuk mendengarkan orang lain.
  • Diskusi membuka kesempatan untuk mencari tahu dan berpikir secara cara mandiri. Dengannya, anak dapat melihat perkara dari berbagai sisi yang berbeda. Hal ini mengajarkannya dan membiasakannya untuk berpikir secara logis.
  • Diskusi menarik perhatian anak dan menghindarkannya dari pikiran yang tak terarah serta rasa malas. Diskusi mendorong anak untuk berinteraksi dan bergerak.
Cara Menyusun

Pertanyaan-Pertanyaan Untuk Diskusi Bersama Anak

Banyak pertanyaan yang dapat di disampaikan kepada anak. Di antara bentuk-bentuk pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut:

- Apa yang sedang terjadi? bentuk pertanyaan seperti ini memacu anak untuk mencari tahu apa yang terjadi di sekitarnya. Ini membantu anak untuk mendeskripsikan apa yang ia lihat secara langsung.
- Apa yang kamu inginkan? Pertanyaan semacam ini membantu anak untuk menentukan kebutuhannya dengan tepat.
- Bagaimana kamu mengerjakan hal ini? Pertanyaan ini membantu anak untuk berpikir secara bebas dan memicu daya khayal untuk mencari tahu jawaban.
- Mengapa ini bisa terjadi? Pertanyaan semacam ini membantu anak untuk melihat melampaui hal nampak dan mencari tahu sebab-sebab terjadinya sesuatu. Anak akan mulai menganalisa dan mencari keterkaitan suatu hal dengan hal yang lain.
- Apa yang akan kita lakukan jika terjadi ini dan itu? Pertanyaan ini akan membantu anak untuk berpikir ulang dan merenungi perkara-perkara berdasarkan acuan yang berbeda.

Terdapat aneka ragam pertanyaan-pertanyaan yang dapat ditanyakan kepada anak. Ciri-ciri pertanyaan yang dapat mendatangkan hasil yang diharapkan dari sisi pendidikan dengan metode diskusi adalah sebagai berikut:

  • Hendaknya dijelaskan bahwasanya Allah subhanahu wa taala yang mengutus pada setiap umat seorang rasul di antara mereka yang bertugas mengajak mereka kepada penyembahan Allah subhanahu wa taala semata. Selain itu mereka juga mengajak untuk mengkufuri apa yang disembah selain Allah. Para rasul tersebut semuanya adalah orang-orang yang jujur dan dibenarkan serta bertakwa dan amanah.
  • Hendaknya pertanyaan yang diberikan sesingkat mungkin.
  • Hendaknya pertanyaan yang diberikan jelas dan terbatas pada ide tertentu.
  • Hendaknya pertanyaan sesuai dengan umur, waktu, tempat, dan keadaan anak.
  • Jangan memberikan pertanyaan yang yang berisi jawaban benar atau salah. Hendaknya pertanyaan yang diajukan adalah pertanyaan yang dapat menggerakkan pikiran anak dan memperluas cakrawalanya. Yaitu dengan memberikan kesempatan bagi anak untuk menghayalkan jawaban.
Metode Menjawab

Pertanyaan Anak

Pembahasan yang lalu berbicara tentang pertanyaan dan jenis-jenisnyanya. Nah, pada pembahasan kali ini kita akan membahas tentang cara menjawabnya. Ada beberapa cara untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan anak sesuai dengan waktu, tempat, dan keadaan ketika pertanyaan itu dilontarkan. Di antara cara-cara itu adalah sebagai berikut :

  • Memberikan jawaban langsung secara lisan. Ini adalah cara menjawab yang paling sering digunakan. Ketika anak menyampaikan pertanyaan keluarga langsung menjawabnya secara lisan. Biasanya jawaban ini adalah jawaban yang cepat dan ringkas.
  • Memberikan jawaban melalui cerita pendek. Ini adalah cara yang tidak langsung untuk menjawab pertanyaan. Hendaknya cerita yang disampaikan sesuai dengan pertanyaan yang disampaikan. Biasanya anak cenderung menyukai jenis jawaban seperti ini dan akan mendengarkannya dengan antusias.
  • Memberikan jawaban dengan gambar. Mungkin saja anak menanyakan pertanyaan yang membutuhkan jawaban dengan menggunakan beberapa gambar sebagai penjelas seperti pertanyaan-pertanyaan terkait ilmu pengetahuan. Biasanya dalam ilmu pengetahuan, gambar dan bentuk menjadi sumber informasi. Lebih baik apabila gambar-gambar itu berwarna dan menarik.
  • Memberikan jawaban dengan membiarkan anak menyaksikan secara langsung. Terkadang anak menyampaikan suatu pertanyaan yang bisa dijawab secara praktis dengan cara mengajak anak kepada tempat yang akan memberikannya jawaban. Hal ini dilakukan agar ia melihat secara realistis dan mengambil kesimpulan darinya. Misalnya pertanyaan-pertanyaan anak terkait dengan hewan-hewan yang ada di lingkungannya. Bagaimana mereka hidup? Apa yang mereka makan? Bagaimana mereka berkembang biak?
Hal-Hal Yang Mesti

Diperhatikan Ketika Menjawab Pertanyaan Anak

  • Usahakan untuk memberikan jawaban yang memuaskan dengan menggunakan metode diskusi, bertanya kembali, dan memperjelas. Hendaknya orang tua tidak terlalu sering men-dikte. Ketika kita telah menjawab pertanyaan tersebut hendaknya kita memastikan bahwasanya anak betul-betul merasa puas dengan jawaban yang telah diberikan.
  • Jujurlah dalam memberikan jawaban. Janganlah berdusta kepada anak. Biasanya orang tua terpaksa berdusta agar tidak merasa malu. Berusahalah untuk tidak memberikan informasi yang keliru kepada anak. Kebenaran jawaban dan realisasinya adalah titik kepercayaan anak kepada anda.
  • Berusahalah untuk menyederhanakan jawaban anda agar mudah dipahami sesuai dengan akal anak. Jauhilah hal-hal yang sulit dan sukar yang dapat mengganggu pikiran anak. Usahakan untuk tidak memberikan kepada anak informasi yang kurang dengan alasan bahwa anak masih kecil dan tidak mampu untuk memahami dengan benar. Ingat bahwan informasi yang diberikan akan terekam kuat dalam memori anak.
  • Jangan berinteraksi dengan anak seakan-akan dia bodoh. Anak mampu untuk memahami apa yang yang kita inginkan apabila kita menyampaikannya dengan cara yang baik. Berusahalah untuk menjawab pertanyaan secara langsung tanpa memalingkan pembicaraan agar anak tidak masuk pada ada pembicaraan yang lain diluar dari inti yang dibicarakan.
  • jangan mencela, merendahkan, dan menghardik anak karena ia bertanya. Bagaimana pun pertanyaan yang disampaikannya. Buatlah ia merasa bahwa setiap waktu Anda siap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Sikap merendahkan akan menjadikan anak merasa kehilangan atau kekurangan percaya diri serta menjauhkan anak dari rasa ingin tahu.
  • Jangan merasa resah diakibatkan pertanyaan-pertanyaan anak tentang sang pencipta atau karena ketidakmampuan anak untuk membayangkan keberadaan-Nya. Jangan menghindari pertanyaan anak karena itu bisa mengakibatkan anak mencari tahu dari sumber yang lain tentang informasi tersebut.
  • Jangan pernah ragu untuk meminta waktu kepada anak agar Anda bisa mencari tahu dan menyiapkan jawaban. Ini menjadikan Anda terlihat sebagai orang yang yang gemar mencari tahu informasi dan pengetahuan. Ini lebih baik daripada Anda terlihat sok tahu padahal Anda tidak mengetahuinya. Bukanlah suatu aib ketika Anda mengatakan kepada anak anda: “ Tunggu ya... bapak/ibu carikan dulu jawaban yang benar untukmu.”
  • Berikan perhatian penuh bagi pertanyaan mereka dan jangan abaikan. Merasa diayomi dan diterima oleh orang tua membantunya secara psikologis menerima penjelasan Anda tentang segala hal yang sulit untuk dipahami.
  • Jika Anda benar-benar sibuk maka hendaknya anda memahamkan anak Anda dengan penuh kelembutan bahwasanya ini bukan waktu yang tepat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Segeralah menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut apabila anda telah mendapati waktu senggang.
  • Hindari hal-hal yang tidak perlu saat menjelaskan dan jangan bertele-tele atau terlalu rinci. Hendaknya jawaban untuk anak usia enam tahun lebih singkat dibandingkan jawaban untuk anak yang usia sepuluh tahun. Ini untuk pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban secara meluas dan argumen rinci. Misalnya pertanyaan tentang hal-hal yang gaib atau pertanyaan-pertanyaan sensitif. Adapun pertanyaan jenis lain hendaknya jawaban dibuat singkat dan bisa disampaikan kepada anak berapapun umurnya.
  • . Sebisa mungkin, hubungkanlah jawaban-jawaban yang diberikan dengan segala sesuatu yang terjadi dan dapat dipahami oleh anak.
  • Hendaknya ada kesepakatan antara kedua orang tua untuk menyampaikan informasi tertentu bagi anak. Hendaknya tidak ada perbedaan atau pertentangan dalam pendapat dari kedua orang tua ketika mengarahkan informasi kepada anak.
  • Usahakan jangan bertanya kembali kepada anak ketika ia bertanya dengan jelas. Misalnya ketika seorang ayah bertanya, “Apa yang kamu maksud?” Pada saat ini anak bisa merasa patah semangat karena tidak mampu untuk menyampaikan pertanyaan kepada ayahnya. Anak meyakini bahwasanya kedua orang tuanya harus memahami perkataannya tanpa perlu penjelasan. Apabila salah satu dari kedua orang tua ingin memperjelas pertanyaan anaknya maka lebih baik menggunakan pertanyaan sebagai berikut: “Apa yang kamu maksud adalah ini?”
  • Jangan memaksakan pendapat ketika menjawab pertanyaan tertentu dari anak. Ketika anak mendapatkan sebuah informasi dari sumber lain akan tetapi dengan cara yang berbeda dari cara yang yang ditempuh oleh kedua orang tuanya, maka hendaknya kedua orang tua menjelaskan jawaban yang benar dengan cara yang mudah dan sederhana. Hal ini dilakukan agar anak merasa yakin terhadap kedua orang tuanya dan bukan sebaliknya.
  • Usahakan jawaban yang diberikan keluar dalam format percakapan bukan ceramah. Perbanyaklah menyebutkan contoh dan kisah. Gunakanlah ensiklopedia bergambar untuk memahamkan sebuah informasi kepada anak. Gunakanlah alat peraga, patung, gambar, lagu, brainstorming, permainan asah otak, stiker, foto dan lain-lain.
  • Beberapa jawaban membutuhkan proses. Jangan menjawabnya secara keseluruhan tapi jawablah sedikit demi sedikit secara bertahap. Apabila anak bertanya lebih banyak maka berikan tambahan jawaban sesuai dengan umur anak dan jenis pertanyaan serta tingkat pemahamannya.
  • Ketika anak telah besar dan memiliki pemikiran yang sedikit matang, alangkah lebih baik kita meminta pendapatnya terhadap hal yang ia tanyakan. Maksudnya adalah kita menanyakan pertanyaan itu pada dirinya sendiri untuk mengetahui bagaimana ia bersikap terhadap pertanyaan tersebut. Dari interaksinya dengan pertanyaan tersebut, kita bisa mengambil acuan untuk menjawab. Memaksakan anak untuk berpikir dengan cara berpikir kita akan menjadikan anak berada pada posisi yang tidak seharusnya.